Thursday, 26 March 2020

Tips Memperingati Isra Mi’raj Ketika #DiRumahAja

Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW di SD Plus Bakti Nusantara 666


Tahun ini akan menjadi momentum perayaan Isra Mi’raj paling berbeda daripada tahun-tahun sebelumnya. Biasanya Isra Mi’raj dirayakan dengan meriah, sebagai agenda rutinitas tahunan dengan penyelenggaraan tabligh akbar di erbagai daerah. Sebagian sekolah bahkan merayakannya dengan perlombaan dan aktivitas keislaman lainnya.


Kini berbeda. Dulu kita mengenal pepatah bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh. Sekarang kita dihadapkan situasi dimana saat bersatu kita runtuh, berpisah kita sembuh. Momen masjid-masjid sengaja dikosongkan, sholat dianjurkan di rumah, dan segala bentuk perkumpulan terpaksa harus dibubarkan.


Setiap kejadian pasti sudah Allah SWT rencanakan, yakinlah bahwa semuanya adalah yang terbaik untuk hamba-Nya. Tugas kita adalah memetik pelajaran dan memperbaiki kesalahan, lebih dekat kepada-Nya dengan menambah kebiasaan ibadah kita.


Sebagaimana Allah atur peristiwa Isra Mi’raj pada Bulan Rajab, salah satu bulan haram yang istimewa dengan banyak kejadian luar biasa. Mulai dari peristiwa Perang Badar, pembebasan Baitul Maqdis, perubahan arah kiblat, terutama peristiwa diperjalankan Rasul SAW ke hadapan para Nabi dan Rasul untuk menjadi pemimpinnya hingga diturunkannya syariat tentang sholat. Tidak lupa runtuhnya Khilafah Utsmaniyah sebagai institusi pelindung umat Islam yang saat ini dibutuhkan.


Yang terpenting dari peringatan hari besar Islam bukanlah rutinitas agenda, meskipun itu harus ada, namun pelajaran apa yang bisa menambah semangat dan manfaat dalam setiap aktivitas. Setiap hikmah harus diimplementasikan dalam kehidupan. Lalu bagaimana cara kita merayakan Isra Mi’raj di tengah wabah yang memaksa kita tidak bisa keluar rumah? Berikut tips yang bisa dilakukan:


Pertama, melaksanakan sholat di rumah tepat waktu dan berjama’ah jika ada keluarga yang bisa diajak. Karena syariat sholat turun saat peristiwa Isra Mi’raj, di mana Nabi Muhammad SAW menjadi imam dari ribuan para Nabi dan Rasul. Syariat ini sudah Allah mudahkan untuk umat Rasul terakhir, di mana sebelumnya hendak ditetapkan syariat sholat sebanyak 50 waktu. Jika ada yang masih menganggap sholat masih berat, coba direnungkan. Sesulit apa sholat yang cuma 5 waktu dibandingkan aktivitas kita lainnya yang kita prioritaskan?


Kedua, perbanyak dzikir, sabar, dan syukur. Peristiwa Isra Mi’raj menjadi momentum penghibur di mana Rasul SAW ditinggalkan dua perisai kehidupannya, ibu dan pamannya. Di masa ‘tertekan’ seperti ini, kita bersama dituntut untuk sabar. Mengurangi interaksi, memprioritaskan makanan yang bergizi, mengontrol kesehatan tubuh, menjaga kebersihan badan dan lingkungan, dsb. Bagi mereka yang sudah dinyatakan positif terkena corona, kesabaran adalah kunci penggugur dosa-dosanya.


Peristiwa ini Allah tunjukkan kemahakuasaan-Nya dengan memperjalankan manusia ke langit dalam waktu sekejap, tidakkah kita merasa kecil dan lemah dihadapan-Nya? Maka perbanyak dzikir untuk mengingat rabb alam semesta, pengatur segala kehidupan. Wabah ini seharusnya menjadi pelajaran, manusia tidak layak sombong dihadapan-Nya.


Bersyukur kita karena masih diberikan nikmat iman dan Islam. Allah SWT ingin melihat siapa orang kafir dan munafik yang tidak percaya akan kebesaran-Nya sekalipun terjadi peristiwa diluar akal manusia. Namun kisah nyata yang Rasul bawa pasti adalah kebenaran yang harus diyakini dan diamalkan oleh setiap orang beriman. Itulah nikmat terbesar yang tidak sembarang Allah berikan kecuali kepada hamba yang rajin bersyukur kepada-Nya.


Ketiga, mendengarkan nasehat para ustadz dan guru-guru walau harus melalui jarak jauh. Mungkin ada sebagian kalangan yang sudah mempersiapkan momen ini dari jauh hari, jadwal penuh ustadz kita pun sudah dibuat demi memperingati hari istimewa ini. Amat disayangkan jika ilmu yang seharusnya didapatkan dan semangat yang bisa disalurkan tidak bisa dirasakan di tahun ini.


Zaman sudah semakin modern, kemajuan teknologi menjadi wasilah untuk kemudahan aktivitas kita termasuk kajian. Mengapa tidak kita juga bisa mendengarkan banyak tausiyah dari ustadz kita melalui daring. Jika karena wabah ini kuliah yang pertemuannya mingguan saja bisa dilakukan secara online, mengapa tidak kalau peringatan Isra Mi’raj yang setahun sekali diadakan juga tausiyah secara streaming. Rupanya sebagian daerah sudah menerapkannya, tinggal kita mau atau tidak berusaha mencarinya.


Terakhir, kita sadar bahwa kondisi kita saat ini adalah kondisi yang tidak wajar. Memilih untuk berdiam di rumah adalah langkah terbaik, karena pilihan kita untuk produktif di luar justru bisa menimbulkan mudharat yang lain. Jika setiap hukum memiliki fakta, dan setiap fakta mempunya hukumnya. Begitulan konsep manath al-hukmi yang kita semua paham. Begitupun kondisi saat ini yang menuntut kita memilih #DiRumahAja karena fakta yang terjadi adalah berbeda.


Jangan sampai umat Islam terlihat ‘mati suri’ karena berhenti untuk menimba ilmu dan semangat dalam beribadah. Seharusnya situasi buruk saat ini menjadi titik balik bagi kita untuk bangkit dari keterpurukan, dan sadar akan kebutuhan umat terhadap aturan Islam. Kesalahan umat saat berpegang pada aturan manusia yang lemah, saat terjadi wabah akhirnya kita mengerti bahwa sejak dulu Islam sudah punya solusi bagi kehidupan kita. Semoga kita semua selalu berada dalam perlingungan-Nya. Aamiin..

sumber: http://bkldk.or.id/2020/03/25/tips-memperingati-isra-miraj-ketika-dirumahaja/


0 comments:

Post a comment