Saturday, 29 June 2019

Berbahagialah Mereka Yang Sudah 'Menyiapkan' Kuburannya


Ada perkataan indah yang disampaikan oleh Yahya bin Muadz Ar-Razi dan dikutip oleh Imam An Nawawi dalam kitabnya Nasha’ihul ‘Ibad, perkataannya berbunyi seperti ini: 

“Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, yang membangun kuburannya sebelum memasukinya, dan yang ridha terhadap tuhan-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya.” 

Dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa yang dimaksud: “Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya” adalah mereka yang menghabiskan harta untuk amal kebajikan sebelum harta itu Allah SWT cabut darinya. Dan yang dimaksud, “Yang membangun kuburannya sebelum memasukinya” adalah mereka yang memperbanyak amal shalih saat hidup di dunia sehingga ia bisa merasakan kedamaian di alam kubur saat kematiannya. Dan yang dimaksud, “Yang ridha terhadap tuhan-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya” adalah mereka yang menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya sebelum menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya. 

Coba renungi lebih dalam sisa-sisa umur kita, apakah benar kita termasuk orang yang beruntung menerima kebahagiaan dunia? Saya sendiri pun kaget ketika melihat umur sendiri, "Kok begitu cepat ya waktu tak terasa umur sudah semakin tua." Hidup hanya dihabiskan untuk mencari harta, harta, harta. Banyaknya harta tidak menjamin kebahagiaan dunia, karena bahagia tidak bisa diukur oleh harta. Atau mungkin di antara kita banyak menghabiskan sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan untuk kemaksiatan. 

Ada yang sanggup membeli segelas kopi dengan harga puluhan ribu tapi begitu susah mengeluarkan selembar 5 ribuan untuk bersedekah. Ada yang begitu mudah dan sering membeli kamar hotel mewah dengan biaya jutaan semalamnya, tapi begitu susah ketika adzan berkumandang mengayuh kaki agar menuntunnya ke masjid padahal masuk masjid tidak bayar . Ada yang begitu mudah membangun rumah mewah, gedung bertingkat, tapi betapa berat bagi dia untuk menyumbang pembangunan masjid padahal lokasinya berada di dekat rumahnya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua perkara yang tidak disukai oleh anak Adam. Pertama, anak adam tidak menyukai kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah. Kedua, anak adam tidak menyukai sedikitnya harta, padahal sedikitnya harta meringankan penghisaban.” (HR. Ahmad) 

Terlena dengan sedikitnya nikmat dunia, namun terlena dengan luasnya nikmat akhirat. Menyesal kita berjuang saat berjuang mati-matian untuk sesuatu yang tidak akan dibawa mati. Saat hari esok (kematian) itu tiba, barulah sadar bahwa yang kita lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan yang berujung kepada penyesalan. Astagfirullahal‘adzim.. 

Allah SWT pernah memperingatkan kita dalam Firman-Nya: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 9-11) 

Salah satu alasan utama manusia saat meninggal memohon agar bisa bersedekah adalah disebabkan sisa umurnya hanya dihabiskan untuk mencari dunia, sedangkan hanya harta yang ia punya untuk menyelamatkannya. Ilmu sedikit, ibadah pun tidak lama. Namun ketika harta banyak, tapi lupa untuk disyukuri dengan banyak bersedekah. 

Banyak orang berlomba-lomba membangun bangunan di dunia padahal hanya untuk hidup sementara saja, namun tidak banyak yang tertarik berlomba ‘membangun kuburan’ mereka dengan memperbanyak amal shalih untuk bekal di dalamnya. Padahal kuburan itulah rumah abadi kita, tempat tinggal di kehidupan kedua. Betapa banyak orang sibuk dengan aktivitasnya padahal kain kafannya sudah dirajut untuk kita. 

Banyak yang tidak mengerjakan perintah Allah dan justru mengerjakan larangan-Nya seakan-akan ia ia hanya bertemu dengan rabb-Nya di hari akhir nanti, padahal sejatinya pertemuan pertama yang ia jumpai akan ditanya apa saja yang dia lakukan di dunia. Terlena dengan dunia namun lupa akhirat. 

Seharusnya kita berharap sebagaimana harapan Abu Bakar kepada tuhan-Nya, “Jadikan dunia ini di genggamanku, bukan di hatiku.” Betul dan sesuai realitas. Bahwa dunia jika dalam genggaman mudah untuk diatur dan dilepas. Berbeda jika sudah melekat di hati, sulit untuk diatur dan sulit untuk dilepas. 

Banyaklah beramal sebagaimana kamu merasa pesimis dengan amalmu. Begitulah kira-kira nasehat sahabat terdahulu, “Hiduplah kalian di dunia sebagaimana kalian akan hidup selamanya, dan beribadahlah kalian di dunia sebagaimana kalian akan mati esok.” Mencari nikmat dunia tidak aka nada habisnya, maka jangan terlalu rakus karena mungkin masih ada hari esok. Namun merasa rakuslah ketika beramal karena mungkin ini adalah amalan terakhir kita. 

Agar kita tidak terjebak dengan perilaku buruk di atas, alangkah baiknya kita selalu merasa pesimis dan berkecil hati menilai diri sendiri dan amal bekal masing-masing. Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur nasehat: 

1. Kalau anda berjumpa dengan seseorang, anda lihat keutamaan dan keunggulan dirinya daripada anda, serayaberkata, “Bisa jadi Allah menjadikan dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya daripada aku.” 
2. Kalau anda berjumpa dengan yang lebih muda, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena ia lebih sedikit maksiat ketimbang aku.” 
3. Kalau anda berjumpa dengan yang lebih tua, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena ia lebih lama beribadah ketimbang aku.” 
4. Kalau anda berjumpa dengan orang berilmu, katakanlah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, mendapat karunia yang tidak aku peroleh, mengetahui banyak hal yang tidak aku ketahui dan mengamalkan ilmunya.” 
5. Kalau anda berjumpa dengan orang bodoh/awam, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena maksiat ia disebabkan ketidaktahuan dan ketidaksadarannya, sedangkan jika aku bermaksiat tentu dengan sepenuh pengetahuan dan kesadaranku.” 

Sikap rendah hati dan tahu diri, karena bisa jadi ada amal yang belum tentu sudah kita amalkan, tapi cukup kita anggap orang lain sudah mengamalkan. Dengan begitu, kita terpacu untuk berbuat amal kebaikan, meninggalkan yang buruk, karena kita menganggap diri kita kurang pahala tapi banyak dosa. Seandainya kita disibukkan dengan aktivitas-aktivitas penuh kebajikan, maka tak sempat waktu kita untuk mengerjakan keburukan. 

Tujuan kita bukan terlihat mulia di dunia, karena manusia bukanlah standar penilaian. Biarkan Allah yang menilai siapa diri kita, pantaskah dimasukkan di surganya. Benar kata imam Ali, “Jadilah anda besar (mulia) di mata Allah, dan kecil di mata manusia.” 


Paris Van Java, 29 Juni 2019
Bandung, 27 Syawwal 1440 H
Muhamad Afif Sholahudin


Saturday, 15 June 2019

One Belt One Road (OBOR) Perspektif Ekonomi dan Politik


Sebuah proyek prestisius digelontorkan oleh Cina, proyek yang menghubungkan perdagangan antara Asia, Afrika dan Eropa yaitu One Belt One Road. OBOR dianggap menjadi visi geoekonomis China paling ambisius dengan melibatkan 65 negara, dan melingkupi 70% populasi dunia. Konsep ini akan menelan investasi mendekati US $4Milyar, termasuk $900 juta yang telah diumumkan China. 

Inisiatif OBOR melibatkan 65 negara mulai dari Asia hingga ke Eropa. Dengan demikian, inisiatif ini akan menghubungkan negara-negara yang mewakili 55 persen produk nasional bruto (Gross National Product, GNP), 70 persen populasi global, dan 75 persen cadangan energy dunia. Sementara itu, Menteri Perdagangan Tiongkok mengumumkan bahwa dalam semester pertama tahun 2015 perusahaan perusahaan Tiongkok telah menandatangani 1.401 kontrak proyek di negara-negara yang masuk ke dalam kerangka Inistiatif OBOR. Nilar kontrak proyek tersebut setara dengan 37,6 miliar dollar Amerika Serikat dan mewakili 43,3 persen dari seluruh kontrak luar negeri yang ditandatangani oleh berbagai perusahaan Tiongkok dalam periode waktu yang sama. 

Pada 27 April 2019 lalu baru saja dilakukan penandatanganan 23 Memorandum of Understanding (MoU) antara sejumlah pebisnis Indonesia dan China dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) II Belt Road Initiative (BRI) di Beijing. Sejumlah pejabat teras Indonesia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Belt and Road Initiative (BRI) di Cina. Sejak 24 hingga 27 April 2019, Indonesia akan berupaya menawarkan 28 proyek strategis senilai Rp1.287 triliun untuk memperoleh pembiayaan dari institusi finansial di Cina. 

SEJARAH OBOR

Pada tahun 2013 pemimpin Tiongkok, Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang melakukan kunjungan ke 22 negara yang menandai karakter baru kebijakan luar negeri Tiongkok. Dari 22 negara yang dikunjungi oleh kedua pemimpin tersebut, 12 kunjungan dilakukan ke negara-negara yang menjadi tetangga dekat Tiongkok, yaitu Rusia, Turkemenistan, Kazakhtan, Uzbekistan, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Thailand, India dan Pakistan. 

Di Kazakhtan, Presiden Xi Jinping menyampaikan inisiatif “Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt)” dengan tujuan utama untuk menghubungkan Tiongkok hingga Eropa melalui jalur darat. Di Indonesia, Presiden Xi Jinping menyampaikan inisiatif “Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (The 21st Maritime Silk Road)” dengan tujuan utama untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa melalui jalur transportasi laut. Dalam visi pemerintah Tiongkok, Sabuk Ekonomi Jalur Sutra akan menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, Rusia, dan Eropa (khususnya kawasan Baltik). Pada saat bersamaan, Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 akan terentang mulai dari pesisir Tiongkok hingga Eropa melalui Laut Tiongkok Selatan dan Samudera Hindia di satu sisi, dan dari pesisir Tiongkok hingga kawasan Pasifik Selatan melalui Laut Tiongkok Selatan 

Pemimpin Tiongkok menggagas satu mekanisme kerja sama multilateral yang dikenal dengan inistiatif One Belt One Road atau juga dikenal dengan Jalur Sutra Baru (New Silk Road Economic Belt) yang terdiri dari Jalur Sutra Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim abad ke-21 (21st Maritime Silk Road). Jalur Sutra Ekonomi merujuk kepada Jalur Sutra kuno yang berfungsi sebagai jalur aktivitas perdagangan dan pertukaran budaya sepanjang 10.000km mulai dari Tiongkok hingga ke Roma. Catatan sejarah Jalur Sutra kuno ini dapat dilacak kembali hingga ke masa Dinasti Han (206 sebelum Masehi hingga tahun 220 Masehi) ketika Duta Besar Zhang Qian dikirim untuk membina hubungan persahabatan ke negara-negara di wilayah Barat Jauh Tiongkok. Sedangkan jejak sejarah Jalur Sutra Maritim dapat dilacak hingga ke masa Dinasti Song (960-1279), di mana kekaisaran Tiongkok memulai pelayaran ke kawasan Asia Tenggara yang pada saat itu dikenal dengan Nanyang. Pada masa ini, Dinasti Song mulai membangun hubungan luar negeri dengan kerajaan-kerajaan di kawasan Nanyang. 

Jalur Sutra Ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi Tiongkok dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah. Upaya meningkatkan kerja sama ekonomi ini menjadi penting seiring dengan meningkatnya pengaruh politik global Tiongkok yang dipersepsikan sebagai potensi ancaman bagi negara-negara di Asia Tengah. Indikasi dari persepsi ini dapat kita lihat dari manuver-manuver politik yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan ini dalam menjaga hubungannya dengan Rusia dan Tiongkok. 

Sementara itu Jalur Sutra Maritim bertujuan untuk memperbaiki hubungan Tiongkok dengan negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan menekankan pada kerja sama di bidang keamanan jalur perdagangan maritim. Inisiatif Jalur Sutra Maritim abad ke- 21 bertujuan untuk menetralisir persepsi negatif negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan terhadap Tiongkok dengan menekankan pada kerja sama ekonomi yang meliputi kerja sama keuangan, proyek pembangunan infrastruktur (seperti pembangunan jalan dan rel kerata api), dan upaya meningkatkan kerja sama di bidang keamanan. Ide tentang Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 juga memberi penekanan pada pentingnya aspek maritim dari peningkatan kerja sama Tiongkok dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan melalui penguatan ekonomi maritim dan kerja sama teknis dan ilmiah di bidang lingkungan hidup. 

Selain itu, Pemimpin Tiongkok juga mempromosikan kerangka kerja sama ‘2+7’melalui gagasan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21. Secara singkat, kerangka kerja sama 2+7 adalah konsensus yang ditawarkan pemerintah Tiongkok mengenai dua isu dan tujuh proposal. Kedua isu tersebut adalah kepercayaan sebagai bagian dari prinsip bertetangga dengan baik antar negara-negara dan kerja sama ekonomi berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan. Sedangkan tujuh proposal meliputi: 

  1. Penandatanganan perjanjian mengenai hidup bertetanggga dengan baik (good neighbor) antara Tiongkok dan ASEAN; 
  2. Meningkatkan efektifitas kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement, FTA) antara Tiongkok dan ASEAN serta mengintensifkan negosiasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP); 
  3. Melakukan akselerasi proyek pembangunan infrastruktur bersama; 
  4. Memperkuat kerja sama dan pencegahan resiko keuangan regional; 
  5. Kerja sama di bidang maritim yang lebih erat; 
  6. Meningkatkan kolaborasi di bidang keamanan; dan 
  7. Meningkatkan hubungan antar-masyarakat (people-to-people) melalui kerja sama di bidang kebudayaan, ilmiah, dan perlindungan lingkungan hidup. 

Melihat visi tersebut, inisiatif OBOR merupakan visi pembangunan konektifitas lintas benua melalui jalur darat dan laut. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa inisiatif OBOR merupakan kesempatan bagi berbagai Negara untuk mendapatkan keuntungan timbal-balik melalui pendanaan bersama pembangunan fasilitas infrastruktur yang melintasi kawasankawasan yang disebutkan di atas. Lebih spesifiknya, pemerintah Tiongkok menawarkan lima area prioritas kerja sama, yaitu (1) koordinasi kebijakan, (2) konektifitas fasilitas, (3) perdagangan bebas (unimpeded trade), (4) integrasi keuangan, dan (5) kerja sama di tingkat akar rumput. 


OBOR Agenda Keamanan Liberal Tiongkok 

Jika dilihat inisiatif OBOR secara keseluruhan, maka hal ini tidak terlepas dari upaya komprensif Tiongkok untuk mewujudkan keamanannya. Dalam kontek mewujudkan kepentingan keamanannya ini, Tiongkok tidak hanya semata-mata ingin mengamankan jalur laut di wilayah Laut Tiongkok Selatan tetapi juga mengupayakan jalur transportasi alternatif terhadap komoditas ekspor dan impor mereka melalui jalur darat dengan mencari akses menuju Teluk Benggala tanpa harus melalui Selat Malaka. Kebutuhan inilah yang menjadi latar belakang interaksi yang cukup tinggi antara Tiongkok dengan Myanmar, yang dapat menjadi pintu gerbang menuju Teluk Benggala dan Samudera Hindia. Analisis yang kurang lebih serupa juga dapat kita lihat dari peningkatan hubungan Tiongkok dengan Pakistan. Dengan meningkatkan kerja sama dengan Pakistan melalui proyek kerja sama pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan raya, rel kereta api, dan pipa gas, Tiongkok akan memiliki akses yang lebih terbuka menuju Teluk Persia dan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Singkatnya, upaya Tiongkok untuk meningkatkan kerja sama dengan negara-negara seperti Myanmar dan Pakistan bertujuan untuk memangkas waktu tempuh transportasi berbagai komoditas penting bagi mereka dan menjadikan hubungan perdagangan tidak lagi terlalu bergantung terhadap jalur tranportasi maritim yang selalu memiliki masalah keamanan. Uraian analisis di atas menunjukkan bahwa insiatif OBOR Tiongkok yang terdiri dari Jalur Sutra Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim tidak terlepas dari upaya pemerintahan Tiongkok untuk mewujudkan kepentingan keamanannya. 

Dalam konteks inisiatif OBOR, pemerintahan Tiongkok menunjukkan bahwa upaya untuk mencapai kepentingan Tiongkok adalah dengan meningkatkan stabilitas regional melalui kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara tetangganya. Langkah pertama untuk menciptakan stabilitas di kawasan yang memiliki makna penting bagi Tiongkok adalah melalui berbagai dialog dan pertemuan tingkat tinggi. Hal inilah yang menjadi alasan pemerintahan Tiongkok untuk meningkatkan hubungan bilateral negaranya dengan negaranegara lain menjadi ‘kemitraan strategis (strategic partnership)’. 

Inisiatif OBOR merupakan bagian integral dari upaya Tiongkok untuk menjaga stabilitas dalam negeri dan menciptakan perdamaian di kawasan, namun pada saat yang sama juga menunjukkan peningkatan pengaruh globalnya dan posisinya sebagai negara kuat di kawasan. Jika dielaborasi lebih detil, lingkungan strategis internasional Tiongkok dipengaruhi oleh beberapa perkembangan kontemporer yaitu 
  1. Pergeseran poros politik luar negeri Amerika Serikat ke Asia (beberapa contohnya adalah negosiasiasi TPP yang tengah digagas oleh Amerika Serikat; penguatan kerja sama Amerika Serikat dengan negara-negara ASEAN, seperti dukungan Amerika Serikat dalam proses demokratisasi di Myanmar serta kerja sama keamanan yang lebih dekat dengan Singapura, Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam); 
  2. Upaya Rusia untuk mengembalikan pengaruhnya di kawasan Asia Tengah; dan 
  3. Manuver negara-negara di kawasan Asia Tengah yang menunjukkan keengganan untuk bergantung kepada Tiongkok. 
Keseluruhan dari berbagai pekembangan kontemporer tersebut tidak memberi pilihan lain bagi Tiongkok selain berupaya untuk terlibat lebih aktif dalam politik internasional di kawasan sebagai kekuatan baru yang sedang bangkit. Namun pada saat yang bersamaan, Tiongkok berupaya menujukkan keterlibatan aktif tersebut dengan menggunakan bahasa yang lunak dan menggunakan narasi sejarah yang positif sebagai dasar bagi negaranegara agar terlibat dalam mekanisme kerja sama multilateral yang ditawarkan Tiongkok. 

Jika Amerika Serikat akan mencoba membendung Tiongkok di kawasan Asia Pasifik, maka Rusia tampaknya akan mencoba melakukan hal yang sama untuk kawasan Asia Tengah. Bagi Rusia, kawasan Asia Tengah merupakan halaman belakang dari politik internasionalnya. Rusia selalu menjadi patron untuk kawasan ini dan akan selalu memastikan sentralitas posisinya. Kebangkitan Tiongkok, dan terlebih lagi dengan adanya inisiatif OBOR yang akan meningkatkan pengaruh Tiongkok di Asia Tengah akan menjadi ancaman bagi hegemoni Rusia di kawasan ini. Tidak hanya di Asia Tengah, Rusia juga mulai merasa terancam di kawasan Siberia dan kawasan Timur Jauhnya seiring dengan makin banyaknya migrasi warga Tiongkok ke kedua kawasan tersebut. 

Di kawasan Asia sendiri, inisiatif OBOR Tiongkok juga dapat menimbulkan dilema tersendiri bagi India. Dalam konteks persaingan memperebutkan posisi hegemon di Asia, India mempersepsikan inisiatif OBOR sebagai strategi ‘untaian mutiara (string of pearls),’ yaitu upaya Tiongkok untuk membendung India di kawasan. Untuk menandingi inisiatif OBOR Tiongkok tersebut, India juga melansir gagasan mekanisme kerja sama multilateral yang dikenal dengan ‘Project Musam’. Melalui Project Musam ini India pada dasarnya berusaha memposisikan dirinya di dua level. Di level makro, India berupaya untuk menghubungkan dan membangun kembali komunikasi antara negara-negara yang berada di pesisir Samudera Hindia guna meningkatkan saling pemahaman melalui nilai-nilai budaya. Sedangkan di level mikro, proyek ini bertujuan untuk membangun budaya nasional India guna memposisikan dirinya dalam politik maritim regional. Walaupun kerja sama ekonomi antara Tiongkok dan India mengalami peningkatan di tahun tahun terakhir, namun pengamat di Tiongkok manyadari bahwa India memiliki intensi untuk menjadi kekuatan global yang memiliki peran penting dalam politik internasional. Hanya saja, India tidak akan bergantung kepada kekuatan ekonomi Tiongkok untuk mewujudkan intensinya tersebut, namundengan mengandalkan kekuatan militer Amerika Serikat. 

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa OBOR / BRI adalah salah satu upaya Tiongkok untuk menjadi adidaya Kawasan terutama di Asia dan Pasifik dan tidak mungkin OBOR adalah upaya Tiongkok untuk menjadi adidaya Internasional menggeser Amerika 


OBOR Penjajahan lewat Hutang 

Bagi China ada tiga keuntungan besar Proyek OBOR yaitu dengan tersalurnya dana cadangan devisa yang melimpah. Pertama, dana tersebut tetap produktif. Kedua, tersedia lapangan kerja baru untuk tenaga kerjanya yang juga melimpah. Ketiga, memperkuat pengaruh China dalam geopolitik global. 

Adapun bagi Indonesia dan negara yang telah melakukan kerja sama, lebih banyak buntungnya. Hal itu tampak dari beberapa jebakan yang sudah disiapkan China untuk mencengkeram negara tujuan kerja sama OBOR: 

Pertama, pinjaman itu tidak gratis. Proyek-proyek tersebut mempersyaratkan kerjasama dengan perusahaan China. Alat mesin, barang-barang produksi, semua dari China. Dan yang lebih penting lagi melibatkan tenaga kerja. Kerjasama semacam ini disebut sebagai Turnkey Project. Pemerintah setempat tinggal “menerima kunci,” karena semuanya sudah dibereskan China. 

Selain membanjirnya tenaga kerja China, proyek OBOR juga banyak menimbulkan petaka bagi negara bantuan. Fenomena ini disebut sebagai jebakan utang China. The China’s Debt Trap. 

Kedua, gagal bayar proyek diserahkan ke China. Pemerintah Srilanka terpaksa menyerahkan pelabuhan laut dalam Hambantota karena tidak bisa membayar utangnya. Banyak pengamat yang mengkhawatirkan di bawah kendali China, pelabuhan itu akan dipergunakan sebagai pangkalan kapal selam untuk mengontrol kawasan di Samudera Hindia, dan Laut China Selatan. 

Di Afrika, China juga berhasil mengambil-alih sebuah pelabuhan di Djibouti karena tidak bisa membayar utang. Langkah ini membuat kesal Amerika Serikat (AS) karena Djibouti menjadi pangkalan utama pasukan AS di Afrika. “Beijing mendorong negara lain mempunyai ketergantungan utang, dengan kontrak-kontrak yang tidak jelas, praktik pinjaman predator, kesepakatan korup yang membuat negara-negara lain terlilit utang,” kecam Menlu AS Rex Tillerson. 

Mengutip data Center for Global Development 2018 yang menyatakan terdapat 8 negara peserta BRI yang diprediksi gagal membayar pinjaman itu. Kedelapan negara itu adalah Djibouti, Kyrgyztan, Laos, the Maldives, Mongolia, Montenegro, Pakistan, dan Tajikistan. Tiga di antaranya telah melepas pelabuhan hingga tanahnya bagi pemerintah Cina sebagai ganti utang itu. Salah satunya bahkan dibangun pangkalan militer. 

Ketiga, wilayah jajahan baru. Pemerintah Indonesia jika tidak paham upaya kolonilisasi China melalui OBOR, serta tidak menyiapkan diri menolaknya maka nasib Indonesia bisa saja sial. Indonesia hanya akan menjadi keran bahan baku bagi produsen-produsen global. Kondisi tersebut dengan praktik VOC atau Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda jilid II. 

Keempat, penguasaan SDA dan ekonomi. Jika OBOR dibiarkan, dalam jangka waktu ke depan, Indonesia berpotensi besar dalam orbit ekonomi China. Terkurasnya kekayaan alam Indonesia, banjirnya produk China hingga mematikan produk lokal, menyempitnya lahan dan lapangan pekerjaan bagi anak bangsa ini, bisa terjadi. Indonesia yang kaya, akan menjadi miskin, pengangguran tidak teratasi maksimal, dan bahaya krisis lahan ekonomi untuk rakyat, akibat ekspansi ekonomi China. 

OBOR PENJAJAHAN GAYA BARU 

Sangat jelas bahwa OBOR ini membawa skema investasi asing, utang luar negeri, dan penjajahan gaya baru. Tak ayal kesemuanya itu jelas-jelas merugikan Indonesia. Karena itu penolakan harus tegas dan jelas oleh semua elemen umat Islam. Penolakan itu sangat beralasan sebab: 
Bahaya Investasi Asing 

Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam mengemukakan, sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat umat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara. 

Pinjaman (investasi asing) yang diberikan Cina, diikat dengan berbagai syarat seperti adanya jaminan dalam bentuk aset, adanya imbal hasil seperti ekspor komoditas tertentu ke Cina hingga kewajiban negara pengutang agar pengadaan peralatan dan jasa teknis harus diimpor dari Cina. Mengutip riset yang diterbitkan oleh Rand Corporation, China’s Foreign Aid and Government Sponsored Investment Activities, disebutkan bahwa utang yang diberikan oleh Cina mensyaratkan minimal 50 persen dari pinjaman tersebut terkait dengan pembelian barang dari Cina. 

Selain harus membayar bunga yang relatif tinggi, juga disyaratkan agar BUMN Indonesia yang menggarap proyek-proyek tersebut yang dibiayai oleh utang dari Cina harus bekerjasama dengan BUMN negara itu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam berbagai proyek pengembangan infrastruktur di negara ini, kehadiran dan peran perusahaan-perusahaan Cina menjadi sangat dominan mulai dari perencanaan, pengadaan barang dan jasa hingga konstruksi (engineering, procurement, construction [EPC]). 

Secara ideologis, haluan ekonomi politik negeri ini sudah menjadi haluan ekonomi dan politik yang mengabdi kepada kepentingan bangsa lain, sepeti Amerika, Jepang, Eropa, dan juga Cina. Salamuddin Daeng, Peneliti Indonesia for Global Justice mengemukakan pandangannya bahwa kita bernegara, kita berkonstitusi hanya menyediakan suatu ruang, bahkan dalam bentuk yang paling asli, kita menyediakan tanah, gedung, jalan, infrastruktur, dan segala macamnya yang ada di negeri ini, semata-mata untuk memfasilitasi bangsa lain untuk mengeruk kekayaan negara kita. 
Bahaya Utang Luar Negeri 

Pembekakan Utang Luar Negeri dan Dalam Negeri akan membebani pembayaran cicilan pokok dan bunga yang juga makin tinggi. Makin besar jumlah hutang, jumlah kas negara yang tersedot untuk bayar utang makin besar. Akibatnya, kapasitas APBN untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat makin terbatas. 

Resiko terbesarnya ialah gagal bayar utang. Zimbabwe, Sri Lanka, dan negeri lainnya bisa menjadi contoh. Selain bisa membangkrutkan negeri ini, tentu utang itu disertai bunga alias riba yang diharamkan dalam Islam. Rasulullah Saw bersabda: 

“Jika zina dan riba telah tersebar luas di satu negeri, sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan adzab Allah bagi diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, al-Baihaqi, dan ath-Thabari) 

Selain itu, perekonomian yang dibangun atas pondasi riba tidak akan pernah stabil. Akan terus goyah bahkan terjatuh dalam krisis secara berulang. Akibatnya, kesejahteraan dan kemakmuran yang merata untuk rakyat serta kehidupan yang tentram akan terus jauh dari capaian. 
Bahaya Penjajahan Gaya Baru (Neo-Imprealisme) 

Metode baku negara kapitalisme, baik Barat dan Timur, yaitu penjajahan. Penjajahan dalam bentuk politik dan ekonomi. Negara yang dijajah akan dikeruk kekayaan alamnya, dijauhkan dari agamanya (Islam), dan eksploitasi besar-besaran. Penjajahan ini untuk melemahkan semangat kaum muslim bangkit kembali kepada Islam. 

Neo-imprealisme inilah yang sering tidak dipahami umat. Hal ini disebabkan uslub penjajahannya bisa bersifat halus tak kasat mata, misalnya bantuan, skema utang, kerja sama, dll. Ada pula yang kasat mata untuk mendudukan suatu wilayah dengan hegemoni militer. 

Sudah selayaknya negeri-negeri muslim menolak proyek OBOR ini, sebagai bentuk kolonialisasi China atas negeri-negeri muslim. Negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, sudah selayaknya dikelola dengan aturan yang berasal dari Allah SWT, bukan justru penguasa bergandengan tangan dengan negara berideologi komunis, China, anti Tuhan. 

Penerapan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan akan membuat negeri negeri muslim menjadi negara yang berdaulat, mampu mensejahterakan rakyatnya dengan karunia sumber daya alam yang melimpah. Saatnya negeri ini hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyah ala minhaji nubuwwah, untuk menyelamatkan umat, mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat, dan hidup berkah dalam ridho-Nya, sebagaimana yang dipraktekkan pada masa Khulafaur Rasyidin.

Wednesday, 27 March 2019

Hati-hati Dalam Merespon Seruan Penerapan Syariah dan Khilafah


Oleh: Ust Azizi Fathoni

Hati-hati, jangan anggap remeh ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah. Dalam kitab al-Adzkaar min Kalam Sayyidil Abraar, al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (w. 676 H) menuliskan sebuah bab khusus:

باب ما يقوله من دعي إلى حكم الله تعالى

“Bab apa yang selayaknya diucapkan oleh orang yang diajak berhukum dengan hukum Allah ta’ala”

Di situ beliau menjelaskan kalimat apa yang harusnya diucapkan oleh orang yang diseru atau diajak untuk berhukum dengan hukum syari’at:

... أن يقول سمعنا وأطعنا ، أو سمعا وطاعة ، أو نعم وكرامة ، أو شبه ذلك

“…hendaknya orang tersebut menjawab dengan ucapan: “kami dengar dan taati”, atau “kami patuh dan taat”, atau “ya, dengan segala hormat”, atau yang semacamnya.”

Beliau sekaligus mencantumkan ayat berkenaan dengan itu:

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nuur: 51)

Jadi mukmin yang sejati itu dilarang menolak seruan kepada hukum Allah. responnya harus positif meng-iya-kan, menyetujui, menerima seruan, dan yang semacamnya dengan penuh rasa tunduk dan patuh.

Al-Imam an-Nawawi lebih lanjut mengingatkan:

وليحذر كل الحذر من تساهله عند ذلك في عبارته، فإن كثيرا من الناس يتكلمون عند ذلك بما لا يليق، وربما تكلم بعضهم بما يكون كفرا

“Hendaknya ia sangat berhati-hati dari memandang remeh perkataannya pada saat itu (saat merespon ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah), karena banyak di antara manusia mengucapkan ucapan tak layak saat ada pada kondisi tersebut. Bahkan boleh jadi di antara mereka mengucapkan perkataan yang menyebabkan kekafiran.”

Bagaimana contoh ungkapan tidak layak dan bahkan sebagian dapat menyebabkan kekafiran itu? “emang negara mana yang sudah berhasil menerapkan? (dengan nada sinis menolak)”, “penerapan hukum Allah dapat membahayakan umat Islam”, “Seruan itu perkataan benar tapi untuk tujuan batil”, “Penerapan syari’ah dan khilafah melanggar kesepakatan founding fathers negara ini”, “penerapan syari’at sudah tidak relevan”, “penerapan syari’ah dan khilafah di negeri ini hukumnya haram!”, “tidak mau kalau yang menyeru dari kelompokmu”, yang terakhir ini tak ubahnya kaum Yahudi yang tidak menerima risalah Islam lantaran dibawakan oleh Nabi dan Rasul yang bukan dari golongan mereka. ‘Ashobiyah telah menjadikan mereka buta dari melihat kebenaran.

Jika kita perhatikan bersama ayat-ayat sebelumnya (an-Nur 48-51), kita akan mendapati ayat-ayat itu menjelaskan macam-macam karakter manusia saat merespon seruan tersebut.

Ada yang mau menerima ajakan tersebut hanya apabila itu mendatangkan keuntungan atau kemaslahatan bagi mereka. Ada yang menolak, dan itu tidak lepas dari: adanya penyakit hati, ragu-ragu terhadap risalah Islam, dan takut kalau-kalau ketetapan Allah dan Rasul-Nya itu tidak adil. sedangkan kaum mukmin sejati akan menerimanya dengan sepenuh hati.

وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ( ٤٨ ) وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ مُذۡعِنِينَ ( ٤٩ ) أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ( ٥٠ ) إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ( ٥١ )

"48. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

49. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.

50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Jadi, jangan main-main saat ada seruan untuk berhukum dengan hukum Allah atau seruan untuk menerapkan Syari’ah dan Khilafah, yang dilakukan oleh siapapun orangnya dan apapun organisasinya. Sikap kita hanya satu: menerimanya dengan segala rasa hormat, tunduk dan patuh. Tidak berkelit menolak dengan berbagai macam alasan.

Malang, 11 Rajab 1440 H

Saturday, 13 October 2018

Muhasabah Kala Tertimpa Musibah


Musibah terus menghampiri berbagai daerah di penjuru negeri. Sebelumnya diperingatkan dengan gempa seperti di Lombok, belum cukup diperingatkan kembali dengan bertambahnya bencana gempa tsunami di Palu. Rasa duka seakan belum usai terobati karena musibah yang datang silih berganti, namun rasa cemas seakan sudah menghantui di beberapa daerah karena peringatan dini gerakan tanah dan gunung meletus sudah mencapai titik rawan. 

Duka nestapa takkan berarti jika berbekas hanya pada materi, membuat orang banyak menyumbang bantuan tapi tetap hati tak merasa sedang diperingati. Padahal kesedihan mereka adalah kesedihan kita, peringatan bagi mereka juga adalah peringatan bagi kita. Peduli terhadap saudara sesama adalah upaya untuk menyelamatkan kita juga. Seandainya ada bagian bawah perahu bocor maka tugas menutupi lubang bukan hanya dipikirkan oleh penumpang bawah karena tenggelam akan menimpa seisi kapal. Maka kekhawatiran mereka adalah panggilan kepedulian kita, termasuk peduli terhadap nasib negeri yang terus ditimpa musibah. 

Namun dapatkah musibah yang terjadi mampu menambah ketakutan kita kepada Allah SWT karena segala fenomena alam yang menimpa tidak lepas dari kemahakuasaan-Nya. Dia berhak menimpakan karena sebab perbuatan manusia. Dalam firman-Nya dijelaskan, "Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah, dan bencana apa saja yang menimpamu, maka itu karena (kesalahan) dirimu sendiri." (TQS. An Nisaa [4]: 79) 

Seandainya bencana di negeri ini ditimpakan karena dosa kita, maka harus bagi kita muhasabah sebagai langkah introspeksi menghindari segala pintu dosa. Beranikah negeri ini sadar kemaksiatan kepada Allah adalah keburukan bagi masa depan bangsa? Seharusnya sadar musibah terbesar bagi kita bukanlah musibah alam namun musibah agama, dimana orang lari dari agama dan memilih manusia sebagai penentu arah kehidupan. Seperangkat hukum Islam yang diturunkan namun diingkari dengan menerapkan hukum manusia. Bukankah wajar jika Allah menghukum suatu negeri karena kedurhakaan manusia di dalamnya? 

Sebagaimana firman Allah SWT, "Dan jika kami hendak membinasakan suatu negeri, maka kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam (negeri) itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan (hukuman kami), kemudian kami binasakan sama sekali (negeri itu)." (TQS. Al Isra [17]: 16) 

Mudah bagi Allah menghancurkan segala infrastruktur yang manusia banggakan, jangankan seluas negeri ini, bahkan jika Dia berkehendak dalam sekejap seluruh isi bumi ini pun bisa dihancurkan. Lantas bagaimana kita ingin mendapat pertolongan dan ampunan jika terus mempertahankan kemaksiatan meluas, perzinahan dilegalkan, riba disuburkan, kriminalitas dimanfaatkan, dan hukum manusia penjajah masih digunakan. Bagaimana bisa kemakmuran negeri ini justru tidak membawa berkah, namun yang datang justru musibah. 

Gempa bumi merupakan peringatan dari Allah bukan kehendak alam. Al-Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah berkata: "Allah Subhanahu wa Ta'ala mengizinkan untuknya maksudnya bumi kadang-kadang untuk bernafas, lalu muncullah gempa besar padanya, dari situ timbullah rasa takut, taubat, berhenti dari kemaksiatan, merendahkan diri kepada-Nya, dan penyesalan pada diri hamba-hamba-Nya, sebagaimana yang dikatakan oleh sebagian ulama Salaf ketika terjadi gempa bumi, "Sesungguhnya Rabb kalian menginginkan agar kalian bertaubat." (Miftah Daaris Sa’adah, 2/630) 

Padahal Allah SWT sudah memperingatkan, "Dan sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (TQS. Al A'raaf [7]: 96) 

Umar bin khattab ra pernah mengatakan, “hisablah dirimu sebelum kalian dihisab, timbanglah amalmu sebelum ditimbang, karena sesungguhnya yang akan meringankan hisabmu nanti adalah saat engkau menghisab hari ini. Dan berhiaslah untuk pertemuan hari akbar, hari saat dipamerkan segala amal, dan tidak ada keringanan sedikitpun atas kalian." 

Maka saat ini yang harus dilakukan adalah muhasabah lalu pembenahan, baik pembenahan fisik dan materi maupun pembenahan batin dan sikap. Korban bencana adalah saudara kita juga maka bantulah mereka dengan kesanggupan yang kita punya. Seandainya para korban adalah diri kita atau sanak saudara kita tentulah bantuan terbaik yang akan kita berikan. Di sinilah kesabaran dari ujian itu terlihat. Di balik bencana ada peringatan moral, termasuk maksiat yang masih terpelihara. Itulah mengapa Umar bin Abdul Aziz didapatkan ketika terjadi gempa langsung menyurati para gubernurnya agar bertaubat dan banyak bersedekah di jalan Allah. 

Pesan kemanusiaan dibalik musibah alam adalah persatuan dalam kepedulian nasib sesama. Tak peduli ormas dan pilihan politik, siapapun berhak membantu dan siapapun wajib ditolong. Sedangkan pesan bagi negeri adalah persatuan dalam ukhuwah dan ketaatan kepada Allah SWT. Kita adalah umat yang lemah dan tak berdaya, tak pantas sombong dengan menolak apa yang telah diperintahkan-Nya. Penting dalam setiap ujian tidak hanya alasan kedatangannya, juga sikap kita menghadapi ujian apakah disikapi dengan ketaatan atau kemaksiatan.

Bandung, 8 Oktober 2018

Thursday, 12 July 2018

Membaratkan Indonesia?

sumber gambar: https://puncakhati.blogspot.com
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Muhamad Afif Sholahudin, Supervisor Of Islamic Law Policy Analysis Forum (ILPAF)

Indonesia negara kaya akan budaya, alam dan wilayah kepulauan semenanjung nusantara. Terbersit harapan dari warganya supaya menjadi negara makmur dan maju karena setumpuk kelebihan yang tidak dimiliki oleh negara lainnya. 

Tak heran banyak negara yang melirik Indonesia sebagai objek primadona para wisatawan, pelaku bisnis, dsb. Masyarakatnya mengemban amanah untuk menjaga, membuatnya menjadi negara adidaya tanpa terlalu banyak bergantung kepada negara-negara besar tandingannya.

Era globalisasi semakin berkembang, tentu hal ini dapat menjadi beban tersendiri dalam menjaga keutuhan nusantara. Semangat nasionalisme terkadang selalu digemborkan agar segala sesuatu yang masuk dan berupaya melunturkan warisan asli nusantara pantasnya ditolak. 

Wajar jika semangat nenek moyang dan para pejuang bangsa yang masih melekat justru menolak adanya pergeseran identitas Indonesia baik berbau ke-timur-an atau ke-barat-an.

Sebenarnya tulisan ini terpancing oleh pembahasan cukup hangat dari cuitan seorang professor tentang meng-Indonesia-kan Islam. Pasalnya, banyak yang merespon dengan berbagai penafsiran sehingga menimbulkan pro kotra khususnya metode dakwah yang disinggung oleh Mahfud MD. 

Menurutnya, mengindonesiakan Islam artinya menyebarkan Islam secara damai melalui relung-relung budaya serta akulturasi melalui proses saling memberi dan menerima. Sedangkan mengislamkan Indonesia lebih terkesan memaksakan dan kooperatif sehingga berwatak eksklusivisme. (tribunnews.com 22/4/2017)

Pesan mengindonesiakan selayaknya dimaknai dengan bijak, karena parameter Indonesia saat ini belum tentu sesuai dengan yang seharusnya dianalogikan. Mengakulturasikan Indonesia dengan Islam adalah kemurnian dari sisi sejarah nusantara, namun kurang disoroti bahwa Indonesia sendiri sudah banyak terakulturasi dengan budaya dan pemikiran barat. Terkadang kita kurang fair jika hanya menjadikan suatu objek sebagai bahan penilaian namun mengabaikan objek lain yang sama pengaruhnya.

Tentu membaca judulnya saja sudah pasti banyak yang tidak setuju. Namun itulah realitas yang dicerminkan kepada masyarakat saat ini namun kurang disadari, Seolah penyesuaian nilai agama yang berasal dari luar langsung ditolak sekalipun itu baik, namun nilai selain agama yang dipandang maju di luar justru tak dihiraukan, kadang bertentangan dengan norma kemanusia namun dianggap sebuah kebanggaan. 

Dalam standar pendidikan saja kita samar menggambarkan bagaimana nilai luhur keilmuan bangsa yang dibawa asli nusantara, memilih pola barat dalam menata pola pendidikan, mungkin karena kompetisi antar budaya dan beda negara semakin bersaing. Output yang diharapkan pun masih belum maksimal, justru sebagian besar lulusan Indonesia lebih bergantung kepada negara lainnya. Akhirnya lulusan Indonesia lebih tertarik belajar dan bekerja di luar negeri khususnya barat.

Sejak awal tidak adil menilai konteks agama sebagai kewaspadaan moral. Makna pendidikan agama Islam misalnya, yang seharusnya diramu dari wilayah timur sana justru disaring karena tidak cocok diajarkan kepada masyarakat Indonesia. 

Doktrin teologis-ideologis (jihad/qital, kati syahid, hijrah, amar ma'ruf nahi munkar) sebagai penyebab psikologis orang anti terhadap NKRI, namun doktrin ideologi neo-konservatif atas kekuasaan dan dominasi Amerika sebagai propaganda yang ditutupi oleh peran orientalisme dengan alat "fundamentalisme Islam".

Mengambil penjelasan Antonio Gramsci, hegemoni merupakan sebuah cara di mana kelas yang dominan menancapkan dan memelihara kendalinya atas seluruh masyarakat. Justru hegemoni budaya yang terjadi di Indonesia harus disadari terus melanggengkan modernitas barat, kapitalisme, dan penguatan wacana dualistik orientalisme (Barat Modern versus Timut Terbelakang, Barat Demokratis versus Timur Teroris). Jangan sampai kita terbuai karena musuh yang sama namun tertipu berkawan dengan serigala berbulu domba.

Watak ekonomi Indonesia pun berhaluan liberal, pedoman yang pancasilais sudah tertulis dalam konstitusi yang mulai terabaikan. Sedikit saja pengelolaan SDA negara dikembalikan kepada amanah Pasal 33 Ayat (2) dan (3) UUD 1945 bahwa penguasaannya diserahkan kepada negara dan digunakan untuk kemakmuran rakyatnya. Bukan kemandirian malah keran investasi asing yang dibuka lebar. Awalnya diharapkan sebagai pendorong tumbuhnya sektor-sektor ekonomi namun distorsi kebijakan pemerintah justru membuat penguasaan pengusaha termasuk barat memangsa kesempatan wirausaha lokal.

Politik yang berjalan pun banyak diwarnai pemikiran negara barat yang berhaluan demokrasi-liberal. Pemikiran politik yang dikenalkan di banyak kampus seperti plato dan Aristoteles, Machiavelli, Montesquieu, dll. Parameter kebebasan justru ditempatkan di depan, hasilnya materialisme dalam pendidikan, senkritisme dalam agama, atau liberalisme dalam ekonomi. Tak heran jika kepentingan yang dimaknai agama akan dicap negatif karena hegemoni orientalisme tadi.

Maka benteng terbaik bagi pribumi untuk konsisten menolak hegemoni budaya barat salah satunya dengan selektif memilih mana yang memberikan manfaat kemajuan dan membangun peradaban manusia, bukan terlalu reaktif terhadap teologis Islam yang jelas menghadirkan rahmat. Sikap hedonisme dan materialisme termasuk sedikit dari kebiasaan buruk yang harus ditanggulangi, baik dari kalangan tua maupun muda. Sebab, target empuk prinsip kebebasan barat justru banyak disasar kepada kaum muda.

Tren model pakaian hingga pergaulan mengikuti gaya barat yang sebelumnya tidak dikenal oleh generasi tua saat ini. Mungkin aplikasi joget bebas tak senonoh yang sedang viral saat ini adalah contohnya, atau aplikasi 'Kissing Test' yang mengukur seberapa hebat kamu berciuman akan menjadi pemicu bagi pengguna dibawah umur untuk terpancing melakukan dengan peraga aslinya. 

Mungkin kita menyadari model seperti ini tak dijumpai dari orang berwatak ke-Timur-an karena ketatnya mereka menjaga diri dan menghormati moral, namun mudahnya kita jumpai pengguna orang berwatak ke-barat-an. Tren pakaian pun sejujurnya banyak berkiblat ke barat. Kalau begitu lantas dimana arti kebanggan terhadap budaya asli Indonesia, apa hanya dijadikan simbolitas saat seremonial saja.

Bagaimana dengan konsep equality cerminan barat yang diperjuangkan di Indonesia denga dalih kebebasan, padahal sangat bertentangan dengan norma kemanusiaan yang tumbuh di nusantara? LGBT salah satu contohnya, seolah terlihat sama sekali tak berbau ke-barat-an padahal dibalik itu terbentuk akulturasi budaya berslogankan kebebasan. Namun saat ditentang dengan dalih agama justru ditolak karena bentuk ketidakpastian fundamental negara berketuhanan.

Maka, penting bagi kita objektif dalam menilai akulturasi suatu bangsa. Saat ini penulis menilai jangan dulu menjaga jarak terhadap budaya positif dari luar, apalagi Islam yang rahmatan lil alamin tidak akan bermaksud merusak norma kemanusiaan di nusantara. Justru khawatirlah ketika kita tak sadar bahwa barat dengan segala tawarannya menghias neo-kolonialisme mereka untuk memudarkan Indonesia secara perlahan. Tentu tak semua harus ditolak, minimal kita selektif dalam menilai dan menolak.

Sumber: https://republika.co.id/berita/kolom/wacana/18/07/12/pbqnos396-membaratkan-indonesia


Thursday, 5 July 2018

Puisi: Pantaskah Kau Terima Taubatku



PANTASKAH KAU TERIMA TAUBATKU

Pantaskah Kau terima taubatku

Di saat pejuang-Mu sibuk membela agama-Mu

Di saat darah mengucur dari para syuhada kebanggaan-Mu

Namun ku duduk santai menikmati dunia-Mu



          Pantaskah Kau terima taubatku

          Ku lihat maksiat dengan mata pemberian-Mu

          Ku menulis dosa dengan kedua tangan-Mu

          Kukhianati semua nikmat pemberian-Mu



Pantaskah kau terima taubatku

Dalam kerendahan ilmuku

Dalam ketidakkhusukan ibadahku

Kering lidah ini mengucap asma-Mu



          Pantaskah kau terima taubatku

          Dari hamba yang mengkhianati ayat-ayat-Mu

          Dari makhluk yang sombong terhadap kuasa-Mu

          Mungkinkah ku mendapat secercah cahaya harapan dari-Mu



Berat bagiku istiqomah di jalan-Mu

Tapi mudah bagi tuk berpaling dari peringatan-Mu

Akankah kau terima taubatku

Atas dosa yang melumuri seluruh badanku



          Sempit hatiku saat memohon luasnya ampunan-Mu

          Kecil jiwaku saat membayangkan besarnya kebijaksanaan-Mu

          Lambat rasa syukurku saat cepat mendapatkan pertolongan dari-Mu

          Tapi besar dosaku saat kau hitung betapa kecil amalku kepada-Mu



Pantaskah Kau terima taubatku

Dari ahli maksiat yang baru sadar akan ampunan-Mu

Watub ‘alaina taubatan nasuha

Watub ‘alaina taubatan nasuha

Tuesday, 22 May 2018

Bersahabat Dengan Al Qur'an Kala Ramadhan


"Wahai manusia, bulan Allah yang penuh rahmat dan ampunan telah datang kepada kalian, sebuah bulan yang merupakan bulan terbaik diantara semua bulan di hadapannya; siangnya adalah siang terbaik, malamnya adalah malam yang terbaik, dan waktu-waktunya adalah waktu yang terbaik. ia adalah bulan ketika kalian diundang oleh Allah untuk berpesta dan kalian telah dipilih sebagai penerima karunia istimewa ini. tarikan-tarikan nafas kalian diberi pahala ibadah. di bulan ini, segala amalan ibadah dan doa-doa kalian diterima..." (HR. Ibnu Huzaimah)

Begitulah sedikit potongan khutbah Rasul saw. dalam menyambul Bulan Ramadhan. Saking istimewa bulan ini sehingga banyak sekali sebutan yang diungkapkan oleh para ulama, seperti bulan agung (syahr 'Adzim), bulan mulia (syahr 'Ali), atau bulan penuh berkah (syahr mubarak). Kedatangannya bagaikan kelahiran seorang anak daripada orangtuanya, jangankan ketika lahir saat mendengar kabar kehamilan istrinya saja sudah bahagia. Begitupun Bulan Ramadhan yang sangat dinanti, bahkan para ulama dahulu menganalogikan bahwa Rajab waktu untuk menanam, Sya'ban waktu untuk menyiram, dan Ramadhan waktu untuk memanen. Ketiganya tidak akan menghasilkan sesuatu yang sempurna tanpa disiapkan terlebih dahulu, disanalah kebahagiaan itu muncul dikala berhasil atas segala perencanaan yang telah dipersiapkan.

Salah satu keutamaan Bulan Ramadhan adalah waktu diturunkannya Al Qur'an sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2]: 185; QS. Al-Qadr [97]: 1; QS. Ad-Dukhan [44]: 3). Hal ini diperkuat dengan riwayat Ibnu Abbas bahwa Al Qur'an diturunkan dari Lauhul Mahfuz ke Baitul Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadr Bulan Ramadhan, lalu diturunkan kepada Rasul saw. secara berangsur-angsur berdasarkan kejadian dan kondisi yang ada. Pada bulan ini Al Quran lebih banyak dibuka, dibacakan, diperdengarkan, dihafalkan, dikaji, dan yang lebih penting diamalkan. 

Keagungan Al Qur'an tidak hanya dilatarbelakangi asbabun nuzul yang istimewa, namun lebih dari itu Al Qur'an adalah kalamullah yang tidak ada tandingannya. "Tidakkah kalian memperhatikan Alquran? Seandainya Alquran itu bukan dari sisi Allah, tentu mereka bakal menjumpai banyak pertentangan di dalamnya" (TQS an-Nisa' [4]: 82) dan ayat lainnya (TQS al-Baqarah [2]: 23). Itulah mengapa Rasul saw. menjelaskan dalam sabdanya:

فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ
"...Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad saw. ..." (HR. Muslim No. 867)

Karena itu membacanya digambarkan sebagai perniagaan yang tidak akan merugi (QS. Fathir [35]: 29-30), dipelajari dan diajarkannya termasuk sebaik-baik manusia (lihat riwayat Bukhari), mampu memberikan mahkota bagi orang tuanya kelak di akherat (lihat riwayat Abu Dawud), di akhir hidupnya akan menjadi syafa'at penolong baginya (lihat Riwayat Muslim). Bayangkan jika peluang emas itu dikerjakan pada Bulan Ramadhan yang pahalanya dilipatgandakan, sungguh merugi orang yang tidak menyadari akan keagungan Al Qur'an. Mushafnya hanya disimpan dalam tumpukan bukunya, dibiarkan berdebu di sela-sela lemarinya, bahkan sesekal dibuka hanya saat terlintas dalam fikirnya karena diminta ustadznya, parahnya bacaan merdu yang didengarnya justru hanya dianggap angin lalu yang tidak mempengaruhinya. 

Perlakuanmu tersebut terhadap Al Qur'an tak seperti perlakuanmu terhadap sahabat! Jadikan Al Qur'an sebagai pegangan, dimana kau takkan kuasa berdiri tanpa ada penopang. Jadikan Al Qur'an sebagai pengatur, maka dimanapun dan kapanpun kau akan selalu menganggapnya sebagai sahabat, tempat kau meminta pilihan dan memenuhi kebutuhan. Bukankah sudah dijelaskan dalam ayat yang sama tentang Ramadhan bahwa Al Qur'an adalah Al Huda (petunjuk) dan Al Furqan (pembeda; antara haq dan bathil) (QS. Al Baqarah [2]: 185). Keberadaannya laksana cahaya ketika gelap gulita, laksana pintu ketika dibutuhkan jalan keluar. Karenanya digambarkan oleh Sabda Rasulullah saw.
“Aku titipkan kepadamu sekalian dua perkara. Jika kamu pegang teguh kedua perkara tersebut, maka tidak akan pernah sesat selama-lamanya; yaitu kitab Allah (Al Qur’an) dan sunnah Rasulullah saw." (HR. Bukhari dan Muslim)

Berikan yang terbaik untuk Al Qur'an selayaknya butuh sahabat, kemunculannya sangat dinantikan, keberadaannya sangat dibutuhkan, dan kehilangannya sangat merugikan. Penyakit daripada kita adalah saat kita tidak sadar telah mengabaikan Al Qur'an, mungkin terasa biasa padahal suatu hal yang tercela. 
وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا
"Berkatalah Rasul: 'Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al Quran itu sesuatu yang tidak diacuhkan'." (QS. Al Furqan [25]: 30)

Rasulullah saw. mengadukan perilaku kaumnya yang menjadikan Alquran sebagai mahjûr[an]. Mahjûr[an] merupakan bentuk maf'ûl, berasal dari al-hujr, yakni kata-kata keji dan kotor. Maksudnya, mereka mengucapkan kata-kata batil dan keji terhadap Alquran, seperti tuduhan Alquran adalah sihir, syair, atau dongengan orang-orang terdahulu (QS al-Anfal [8]: 31). Bisa juga berasal dari al-hajr yakni at-tark (meninggalkan, mengabaikan, atau tidak memedulikan). Jadi, mahjûr[an] berarti matrûk[an] (yang ditinggalkan, diabaikan, atau tidak dipedulikan) (Lihat: at-Thabari, 9/385-386).

Banyak sikap dan perilaku yang oleh para mufasir dikategori hajr al-Qur'ân (meninggalkan atau mengabaikan Alquran). Di antaranya adalah menurut al-Qasimi (7/425) menolak untuk mengimani dan membenarkannya; tidak men-tadaburi dan memahaminya; tidak mengamalkan dan mematuhi perintah dan larangannya; berpaling darinya, kemudian berpaling pada lainnya, baik berupa syair, ucapan, nyanyian, permainan, ucapan, atau tharîqah yang diambil dari selainnya; sikap tidak mau menyimak dan mendengarkan Alquran; bahkan membuat kegaduhan dan pembicaraan lain sehingga tidak mendengar Alquran saat dibacakan, sebagaimana digambarkan Allah SWT (Lihat QS Fushshilat [41]: 26).

Maka kenali betul siapa sahabat terbaikmu, sesuatu yang dapat menemanimu kala menempuh dinamisnya kehidupanmu. Mari luruskan posisi dalam menaruh Al Qur'an diantara jalur kehidupan kita, inilah pembimbing terbaik hidup kita (QS. Al Isra [17]: 9), mengamalkannya akan membentuk pribadi muslim yang sempurna (QS. Al Qashash [28]: 77), dengannya akan membangun masyarakat yang islami (QS. Al Furqan [25]: 28), dan menyatukan langkah umat dalam berjuang (QS. Al Furqan [25]: 52; QS. Ash Shaff [61]: 4).

Maka maksimalkanlah waktu di Bulan Ramadhan sebagai momen bercengkrama dengan hangat agar kau merasakan kenikmatan Al Qur'an. Apalagi di dalam Syarh Shiyam ini momentum puncak orang-orang berpuasa, dimana malaikat pun akan memintakan ampunan untuk orang yang berpuasa selama berpuasa hingga berbuka. Dan, Allah pun memberikan ampunan untuk mereka di akhir malam Bulan Ramadhan. Terdapat satu malam yang lebih baik dari 1000 bulan (83 tahun). Tak ada semangat qiyamul lail yang tinggi selain di Bulan Ramadhan, tak ada gerakan ikhlas terbaik selain sedekah terbaik di Bulan Ramadhan. Maka wajar jika dalam Riwayat Ibn 'Abbas dituturkan bahwa Nabi adalah orang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi ketika bulan Ramadhan, saat Jibril menemui baginda saw. untuk mengecek hapalan al-Qur’an baginda saw.

Buatlah setiap sesi hari-hari kita sebagai momen terbaik dalam mendekatkan kita kepada Al Qur'an. Jadikan ia sebagai bagian hidup yang tidak bisa terpisahkan selayaknya jantung tak bisa hidup tanpanya, karena ia adalah penyembuh tiap penyakit hati-hati kita (QS. Yunus [10]: 57). Jadikan ia penentuk hukum setiap aktivtas kita (QS. Al Maidah [5]: 48). Peganglah erat sampai kita mati, jangan sampai Islam saat ini mati! Justru ia adalah pelindung dan penolong sejati kala kita masih diberikan sisa umur di dunia. Sebagaimana Firman-Nya.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
"Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu." (QS. Al Baqarah [2]: 120)


Muhamad Afif Sholahudin
Bandung, 6 Ramadhan 1439 H / 22 Mei 2018
at 2.08 AM