Saturday, 3 August 2019

Faktor-faktor Penyebab Sulit Menghafal Al Quran



Setiap muslim pasti punya keinginan untuk bisa menghafal Al Qur’an. Dorongannya ada berbagai macam, targetnya pun berbeda-beda tergantung kemampuan. Namun, sangat disayangkan jika ada yang beralasan seorang muslim tidak mau menghafal qur’an hanya karena menghafal adalah aktivitas yang sulit dikerjakan. Mengapa bisa beranggapan demikian, mungkin saja karena ia sudah pernah mencoba menghafal namun terus menerus menemui kegagalan. Ketika sudah putus asa dan menyerah, akhirnya dia memilih untuk tidak melanjutkan hafalannya. 

‘Sulit’ memang bukan satu-satunya alasan, ada pula yang beralasan sibuk dengan pekerjaan atau terlalu banyak fikiran, mungkin juga karena faktor usia yang sudah menua. Yang jelas tidak mungkin karena tidak punya uang, karena menghafal qur’an adalah hal paling mudah, gratis, di setiap masjid pun pasti tersedia Al Qur’an. Tinggal kemauan saja yang menjadi modal utama, selanjutnya mengandalkan keistiqomahan dalam muroja’ah dan setoran. Semua itu sudah saya bahas dalam artikel: Mitos-mitos dalam Menghafal Qur’an. 

Sebenarnya untuk menghafal Al Qur’an tidaklah sulit, asal bisa mengatasi beberapa penyebab berikut: 

Pertama, tidak sabar. 

Semua usaha demi mencapai hasil pasti harus melewati prosesnya. Tidak ada yang instant di dunia ini, bahkan mie instan saja butuh direbus terlebih dulu. Begitupun ketika ingin hafal sebuah surat atau beberapa ayat, pasti ada proses menghafalnya. Anak kecil yang hafal 30 Juz pun tidak serta merta membaca langsung hafal, lihat proses dari bayi sudah dilatih sejak dalam kandungan. Yang tua pun sering mendapati baru membaca langsung hafal, hati-hati karena jika tidak sabar kelak kalian akan menemukan kesulitan saat muroja’ah. 

Orang ketika sudah kehilangan kesabaran akan mengeluh dan patah semangat. Konsentrasi buyar, fokus pun terpecah. Di tengah menghafal akan macet, mungkin saja gagal tidak hafal-hafal. Baru dihadapkan dengan ayat pendek saja masih merasa berat, lalu bagaimana jika bertemu dengan ayat yang panjang. Kalau tidak sabar, setiap melafalkan ayat pun akan terasa berbeda, bawaannya selalu ingin cepat hafal. Kesabaran dalam menghafal membutuhkan kesabaran yang tinggi, terutama konsisten dalam menjalankan jadwal hafalan atau muroja’ah. 

Ketika menghafal tidak disertai rasa sabar maka setiap menghafal akan terasa berat dan semakin berat. Waktu adalah investasi dalam menghafal Al Quran, jika diabaikan maka akan kehilangan hasilnya. Maka hargai waktu dengan cara bersabar, nikmati prosesnya dan maksimalkan hasil hafalannya. Jangan berikan setoran yang apa adanya, terbata-bata dan terlihat masih sering dibantu. Lancarkan agar hafalan tetap kuat tidak mudah lupa, sebab kalaupun sudah hafal masih ada tugas lainnya yakni menjaga hafalan. Dan itu pun sama membutuhkan waktu lebih banyak daripada menghafalnya. 

Kedua, tidak menguasai cara membaca yang benar. 

Ilmu pertama dan paling utama dalam menghafal adalah ilmu membaca, sebab bagaimana bisa menghafal sesuatu jika kita tidak bisa membacanya terlebih dahulu. Meskipun bisa saja kita menghafal melalui pendengaran, seperti anak-anak yang sering mengulang bacaan gurunya hingga hafal. Namun metode seperti itu akan terlihat memberatkan bagi anak, sebaliknya jika sudah bisa membaca Al Quran dengan benar akan terasa lebih ringan menghafal. 

Membaca Al Quran haruslah dengan tartil. Sebagaimana Ali bin Abi Thalib r.a pernah menjelaskan yang dimaksud tartil adalah, “Makhorijul huruf wa Ma’rifatil wuquf.” Makhorijul huruf menekankan kepada kelancaran membaca dan melafalkan huruf dengan benar sesuai ilmu tajwid. Sedangkan Ma’rifatil wuquf menekankan pada cara memberhentikan bacaan. Jika bacaan tidak dilandasi dua aspek tersebut, maka ketika hendak membaca ayat yang ingin dihafal akan kaku, tidak lancar bahkan bisa salah baca. 

Dampaknya proses menghafal dapat memakan waktu yang lebih lama dan terasa semakin berat, sebab kesulitan yang dihadapi ada dua: sulit membaca dan sulit menghafal. Dampak buruk lainnya adalah ketika bacaan yang dihafal salah dengan bacaan aslinya, maka sering ditemukan anak yang sulit mengubah kebiasaan bacaan salahnya dulu karena sudah terlanjur dihafal. Mulai dari panjang pendeknya, tertukar cara membaca huruf-huruf mirip, atau salah dalam menyusun bacaan ayat. Maka kuasai cara membaca yang benar dan lancar agar hilang kesulitan saat menghafal Al Quran. 

Ketiga, tidak banyak berdoa. 

Tidak ada yang sia-sia dari permohonan kita kepada Sang Pencipta, yakinlah bahwa Allah pasti akan mengabulkannya. Doa menjadi senjata seorang muslim, maka gunakan itu sebagai alat terbaik meraih cita-cita menjadi hafizh quran. Mohonlah agar dimudahkan hafalan, dihindarkan dari segala kesulitan dan gangguan ketika menghafal, diberikan kekuatan daya ingat yang lebih lama, termasuk lingkungan atau keluarga yang mendukung. 

Bacakan doa-doa kita di setiap waktu yang tepat. Kapanpun dan di manapun doa memang boleh dibacakan, namun waktu-waktu biasa kita memanjatkan doa akan membuat doa kita lebih serius untuk dilakukan. Semisal berdoa di waktu setelah sholat tahajjud dan dhuha, atau doa setiap selesai sholat lima waktu. Denga begitu kekhusukan ibadah sholat mampu memunculkan khusuk dalam membaca doa. Yang terpenting berdoa ketika sebelum dan sesudah pembelajaran tahfizh. Hal ini pernah di bahas di artikel sebelumnya. 

Sering-seringlah membaca doa di waktu yang lebih mustajab. Saat hujan turun, saat selesai adzan, ketika berpuasa, saat sedang hujan, dsb. Tidak hanya waktu yang lebih mustajab, namun juga bisa dilakukan di tempat-tempat yang lebih mustajab ketika dibacakan doa. Semisal di Mekkah atau Madinah, di Ka’bah, masjid, dsb. 

Allah SWT pun akan menerima doa hambanya yang serius atas permintaannya dan sejalan dengan ikhtiar hambanya. Oleh karena itu, kepantasan doa pun bisa diukur seberapa pantas orang tersebut memintanya. Ketika kita mengharapkan agar memiliki keturunan hafizh quran maka termpatkan mereka di sekolah yang mempunyai program menghafal quran, bukan sekolah umum yang masalah penutup aurat saja masih belum semua terjaga. Sekalipun di sekolah sudah menghafal, kita pun di rumah harus bisa menciptakan suasana keluarga yang mendukung keberadaan seorang hafizh quran di dalamnya. Jangan sampai sudah dihafal di sekolah namun hilang saat sampai di rumah. 

Keempat, tidak menjauhi atau menghindarkan diri dari maksiat. 

Semakin banyak seseorang melakukan perbuatan maksiat akan membuat orang tersebut semakin menjauh dari Allah SWT. maksiat itu banyak jalurnya, bisa melalui mata, telinga, mulut, tangan, termasuk hati. Tubuh yang terbiasa melakukan aktivitas maksiat akan lebih sulit mendekatkan diri dengan Al Quran. Jangankan Al Quran, mungkin yang halal baginya pun tidak akan membuat dirinya tertarik terhadapnya. 

Seperti mata yang terbiasa melihat yang haram, maka yang halal pun jadi tidak terasa nikmatnya. Begitupun dengan mulut, terbiasa mengucapkan keburukan akan sulit mengucapkan Al Quran barang se-ayat-pun. Yang dikhawatirkan jika maksiat itu terbiasa dilakukan oleh hati, maka sebanyak apapun hafalan atau seluang apapun waktunya, tetap hatinya akan menuntun ia melakukan aktivitas yang lebih buruk dibandingkan menghafal Al Quran. Hindari maksiat, karena Al Quran itu suci dan sesuatu yang suci akan menempel pada tubuh yang suci pula. Itulah mengapa untuk menyentuh nushafnya saja harus mempunyai wudhu terlebih dahulu, sebab tak pantas diri kita yang penuh dosa bersentuhan dengan sesuatu yang suci tanpa harus mensucikan diri terlebih dahulu. 

Ibnu Taimiyah rahimakumullah berkata, “Sesungguhnya lupa terhadap hafalan Al Quran termasuk akibat dosa-dosa.” (Majmu’ al-Fatawa, XIII: 423) Menghafal quran tidak cukup sekali baca, itu semua orang pun paham. Namun ada yang berkali-kali baca namun tidak pernah hafal-hafal, maka bisa saja disebabkan diri kita yang mudah lupa akibat dosa-dosa kita. Otak akan merasa terhambat dan sulit merespon, sebab penyakit-penyakit tadi yang merusak kesucian jasadiyah dan ruhiyah kita. Semoga kita masih diberikan kesempatan untuk selalu memanjatkan taubat nasuha kepada-Nya. 

Nah, setidaknya empat faktor tersebut harus diwaspadai agar memudahkan kita menghafal atau menguatkan hafalan yang sudah kita punya. Sebenarnya masih ada beberapa faktor penyebab sulitnya kita, baik dewasa maupun anak-anak, menghafal quran. Mungkin akan dibahas di artikel lainnya. Terakhir, menjaga hafalan tentu lebih berat daripada menghafalnya. Maka sungguh keterlaluan jika masih pada tahap menghafal sudah menganggap hal yang sulit, lalu bagaimana dengan menjaga hafalan yang lebih berat? Semoga Allah mudahkan segala urusan kita dan dijaga setiap langkah kita. Aamiin ya robbal ‘alamiin.. 

Bandung, 3 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin





Sunday, 28 July 2019

Doa Memulai Pembelajaran Tahfizh dan Dimudahkan Hafalan



Doa adalah bentuk permohonan dan permintaan kepada Allah SWT. Tanpa izin-Nya tentu takkan berarti apa-apa segala aktivitas, terutama menghafal firman-Nya. Bukankah kesempatan kita bisa menghafal adalah nikmat yang telah diturunkan oleh sang Khaliq? Begitupun dimudahkannya dan selalu istiqomah adalah anugerah yang harus kita bayar dengan syukur dan mohon pertolongan-Nya. Jangan sampai usaha kita menghafal Al Qur’an malah menunjukkan kita kepada jalan lain yang tidak kita harapkan.

Adapun tentang doa agar dimudahkannya menghafal Al Qur’an, dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW bersabda kepada Amirul Mu’minin, Ali r.a sebagaimana berikut: 

“Aku akan mengajarkanmu sebuah doa yang membuatmu tidak akan melupakan ayat-ayat Al Qur’an.” 

Adapun doanya adalah sebagi berikut:

اَللّهُمَّ ارْحَمْنِي بِتَرْكِ الْمَعَاصِيْ أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِيْ. وَارْحَمْنِيْ أَنْ تَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِيْنِيْ. وَارْزُقْنِيْ حُسْنَ النَّظَرِ فِيْمَا يُرْضِيْكَ عَنِّيْ. اَللّهُمَّ بَدِيْعَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ. ذَالْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِيْ لَا تُرَامُ, أَسْأَلُكَ يَا أَللّهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ وَنُوْرِ وَجْهِكَ أَنْ تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِيْ. وأَنْ تُطْلِقَ بِهِ لِسَانِيْ. وَأَنْ تُفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِيْ. وَأَنْ تَشْرَحَ بِهِ صَدْرِيْ, وَأَنْ تَغْسِلَ بِهِ بَدَنِيْ, فَإِنَّهُ لَا يُعِيْنُنِيْ عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ. وَلَا يُؤْتِيْهِ إِلَّا أَنْتَ, وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ


Allohummar hamni bitarkil ma’aashii abadan maa abqoitanii, warhamnii an takallafa maa laa ya’niinii, warzuqnii husnan nadhori fiimaa yurdhiika ‘annii, allohumma badii’as samawaati wal ardh, dzaljalaali wal ikroomi wal ‘izzati allatii laa turoomu, asAluka yaa alloohu yaa rohmanu bijalaalika wa nuuri wajhika an tunawwiro bikitaabika bashorii, wa antuthliqo bihi lisaanii, wa antufarrija bihi ‘ang qolbii, wa antasyroha bihi shodrii, wa antagsila bihi badanii, fa innahu laa yu’iinunii ‘alal haqqi ghoiruka, wa laa yuktiihi illa anta, wa laa quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘azhiim. 

Artinya: 

“Ya Allah, rahmatilah aku agar dapat meninggalkan maksiat kepada-Mu selamanya, selagi Engkau masih memberi kesempatan kepadaku. Kasihanilah diriku dari hal yang tak sanggup aku pikul. Karuniailah aku iktikad baik dan ketertarikan kepada hal yang engkau sukai. Teguhkan hatiku untuk menghafal kitab-Mu, sebagaimana engkau ajarkan kepadaku. Karuniailah aku supaya bisa membacanya sesuai dengan yang Engkau sukai. Ya Allah, dengan kitab-Mu terangilah penglihatanku, lapangkanlah dadaku, bahagiakanlah diriku, bebaskan (belenggu) lidahku, terapkanlah kepada badanku, kokohkanlah diriku atasnya, dan bantulah diriku untuk hal tersebut. Sesungguhnya, tiada penolong untuk hal itu, kecuali Engkau; tiada Tuhan selain Engkau.”[1]

Ketika anda sedang mendidik anak atau membina murid tahfizh qur’an, maka anda bisa membiasakan anak-anak membaca doa sebelum masuk pembelajaran tahfizh. Hal ini diupayakan agar setiap anak mampu memunculkan penghormatan terhadap Al Qur’an dan pengistimewaan proses pembelajaran. Dengan berdoa akan mengawali keseriusan belajar, suasana menjadi lebih syahdu, dan konsentrasi menghafal akan lebih fokus. Dengan doa pun akan memperkuat niat terhadap motivasi menghafal, serius dalam setoran dan tidak mudah malas ketika muroja’ah. 

Lalu bagaimana menyusun doa sebelum belajar tahfizh? Ada berbagai macam bentuk doa, tidak harus baku atau menyesuaikan yang ada, bahkan untuk doa pun boleh menggunakan bahasa kita. Hanya saja, ke-khusuk-an akan terasa jika kita membaca doa dengan mengawali surat dan doa-doa istimewa. Semisal doa sebelum belajar. Karena kita sejak kecil dibiasakan berdoa menggunakan bahasa arab, maka boleh untuk mengikuti doa yang ada di bawah ini. 

Baca Surat Al Fatihah 1x

رَبِّ زِدْنِيْ عِلْمًا وَرْزُقْنِيْ فَهْمًا

Robbi zidnii ‘ilman warzuqnii fahman

Ya Rabb, tambahkanlah aku ilmu, dan karuniakanlah aku pemahaman.

رَبِّاشْرَحْ لِيْ صَدْرِيْ وَيَسِّرْلِيْ أَمْرِيْ وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِّنْ لِسَانِ يَفْقَهُوْا قَوْلِيْ


Robbisyrohlii shodrii wa yassirlii amrii wahlul ‘uqdatam millisaani yafqohuu qoulii 

Ya Rabb, lapangkanlah dadaku, mudahkanlah urusanku, lepaskanlah ikatan pada lidahku agar mereka memahami perkataanku.

اللَّهُمَّ ارْزُقْنَا فَهْمَ النَّبِيِّيْنَ وَحِفْظَ الْمُرْسَلِيْنَ وَاِلْهَامَ الْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ


Allohummar zuqnaa fahman nabiyyiin, wa hifzol mursaliin, wailhaamal malaaikatil muqorrobiin 

Ya Allah, karuniakan kepadaku kefahaman para Nabi, hafalan para Rasul, dan ilham malaikat yang dekat (dengan-Mu).

اللَّهُمَّ افْتَحْ لَنَا حِكْمَتَكَ وَانْشُرْعَلَيْنَا رَحْمَتَكَ مِنْ خَزَائِنِ رَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Allohummaftahlanaa hikmataka, wangsyur’alaiknaa rohmataka, minkhozaaini rohmatika, yaa arhamar roohimin 

Ya Allah, bukakanlah kepada kami hikmah-Mu, limpahkanlah kepada kami rahmat-Mu, dari khazanah rahmat-Mu, wahai Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

اللَّهُمَّ جْعَلْنَا الْقُرْءَآنَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَجَلَآءَ غُمُوْمِنَا وَذَهَابَ أَحْزَانِنَا وَهُمُوْمِنَا وَسَابِقَنَا إِلَى جَنَّاتِكَ جَنَّاتِ النَّعِيْمِ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ


Allohummaj’alnal qurAana robii’a quluubinaa, wa nuuro shuduurinaa, wa jalaaA ghumuuminaa, wa dzahaaba ahzaaninaa wahumuuminaa, wasaabiqonaa ila jannatika jannaatin na’iim, birohmatika yaa arhamar roohimin 

Ya Allah, jadikanlah kami Al Qur’an sebagai penyejuk hati kami, dan cahaya bagi dada kami, penglipur kesedihan kami, pelenyap kesusahan dan kegundahan kami, serta penuntun kami menuju surga-Mu, surga yang penuh kenikmatan, dengan rahmat-Mu Dzat yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. 

Kelas tahfizh pun seharusnya dibuat lebih khusu’. Ini semua tentang apa yang dibaca dan dihafal, yakni Al Qur’an. Maka berikan waktu terbaik, semisal pagi di sekolah, sebab kalau sore akan membuat anak lebih sulit menghafal karena beban fikiran yang sudah diterima sejak pagi. Lalu berpakaian dan bersikap yang sopan, seperti bagi anak perempuan menggunakan pakaian muslimah yang sopan atau laki-laki berpakaian suci. Akan terlihat aneh ketika menghafal Al Qur’an menggunakan celana ketat bagi muslimah. Lalu bersikap seperti menaruh Al Qur’an dengan aman tidak sembarangan. 

Ada beberapa adab lain yang harus diamalkan dalam menjaga kesucian Al Qur’an. Minimal menghargai adab terhadap Al Qur’an mampu membuat kita serius menghafalkannya, bukan karena tuntutan lain sehingga merasa dipaksa. Hasilnya pun akan dirasakan nikmat dan membuat bangga setiap orang, khususnya bagi keluarga. Siapapun pasti mau menghidupkan keluarga dengan Al Qur’an, maka hadirkan walau hanya satu orang yang terus mengingatkan kita dengan ayat-ayat paling sempurna ini. 

Wallahu a’lam bisshowab. 

Bandung, 28 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin, S.H

____________________
[1] quran.al-shia.org 

Saturday, 27 July 2019

Memulai Persiapan Mendidik Hafizh Qur'an



Persiapan adalah faktor penting dalam melakukan suatu aktivitas, terutama dalam menghafal Al Qur’an. persiapan harus disiapkan sematang mungkin agar proses menghafal dapat berjalan baik dan benar. Selain itu, persiapan adalah syarat utama untuk memperoleh hasil yang maksimal dan memuaskan. Namun ada hal lebih mendasar dari menyusun persiapan menghafal Al Qur’an, yakni meluruskan niat. 

Jika menghafal tanpa dilandasi niat yang ikhlas maka akan menjadi sia-sia belaka, dan niat yang ikhlas hanya ditujukan untuk meraih ridha Allah SWT. Seandainya niat sudah diluruskan maka kemauan dan hasrat yang tertanam dalam hatinya akan membuat setiap proses hafalannya terasa ringan walaupun melelahkan. Jika menghafal tidak dilandasi keikhlasan maka yang diharapkan hanya penghormatan dari orang lain, hasilnya akan lahir penyakit sombong, atau penyakit hati lainnya. Ikhlas adalah kunci kesuksesan yang sempurna dari setiap amal. 

Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertutur nasehat, “Amal yang paling baik adalah yang paling ikhlas dan paling benar. Jika amal itu ikhlas, tetapi tidak benar, maka tidaklah diterima. Bila amal itu benar, namun tidak ikhlas, juga tidak akan diterima, kecuali dilakukan dengan ikhlas. Ikhlas artinya dilakukan hanya karena Allah. Adapun benar artinya ialah sesuai dengan sunnah (tuntunan dan petunjuk Rasulullah SAW).” 

Mulai dari hal yang paling mendasar, yakni dorongan anak agar semangat menghafal Al Qur’an. Lalu bentuk lingkungan yang dapat menjaga anak agar tetap menghafal qur’an. Jika sudah, buatlah sebuah pola pendidikan hafalan yang sesuai dengan anak, mulai dari cara menghafal, setoran, hingga muroja’ah. Bagaimanapun caranya, tujuannya tetap sama yakni hafal Al Qur’an. Ada yang memilih memasukkan anaknya ke pesantren tahfizh, atau mengikutsertakan pada program karantina tahfizh, ada pula yang membina di rumah privat dengan mengundang guru tahfizh. Sebagian besar yang berhasil mencetak hafizh di usia di bawah 7 tahun adalah mereka yang sejak kecil (bahkan sejak dalam kandungan) sudah dibina intensif oleh orangtuanya langsung. 

Para salaf pun dahulu selalu memperhatikan pendidikan menghafal (tahfizh) Al Qur’an bagi anak-anaknya. Syaikh Yasin bin Yusuf al-Marakisyi menceritakan kepada kita tentang Imam an-Nawawi Rahimahullahu, beliau berkata, “Aku melihat beliau (Imam an-Nawawi) ketika masih berumur 10 tahun di Nawa. Para anak kecil tidak mau bermain dengannya dan ia pun berlari dari mereka seraya menangis, kemudian ia membaca Al Qur’an. Maka tertanamlah dalam hatiku rasa cinta kepadanya. Ketika itu bapaknya menugasinya menjaga toko, tetapi ia tidak mau berjualan ingin menyibukkan diri dengan Al Qur’an. Maka aku datangi gurunya dan berpesan kepadanya bahwa anak ini diharapkan akan menjadi orang yang paling alim dan zuhud pada zamannya serta bermanfaat bagi umat manusia. Dia pun berkata kepadaku, ‘Tukang ramalkah anda?’ Aku menjawab, ‘Tidak, tetapi Allah-lah yang membuatku berbicara tentang hal ini.’ Bapak guru itu kemudian menceritakan kepada orangtuanya, sehingga memperhatikan beliau dengan sungguh-sungguh sampai dapat khatam menghafal Al Qur’an ketika menjelang akil baligh.” 

Ya, orangtua adalah salah satu faktor mempengaruhi dorongan anak menghafal. Eh, belum tentu. Faktanya banyak orangtua yang masih sama mengejar hafalan, bahkan masih belajar membaca qur’an, tapi berhasil membuat anaknya hafizh 30 juz. Biasanya mereka menitipkan anaknya di pesantren tahfizh. Kalau ragu tertinggal dengan pelajaran yang seharusnya ditempuh di usianya, bisa memilih dengan sekolah Islam Terpadu (IT) atau Plus atau sejenisnya yang menyediakan program lulus hafal beberapa juz. 

Jangan lupakan keluarga sebagai faktor penting arah pendidikan anaknya. Rumah adalah madrasah utama, sedangkan orangtua adalah guru pertama. Dari rumah lahir seseorang yang akan tumbuh berkembang sesuai dengan pendidikan orangtuanya. Ketika orang tua berharap anaknya menjadi penghafal Al Qur’an, maka orangtuanya akan memberikan pendidikan sesuai dengan apa yang dicita-citakan. 

Ibnul Qayyim Al-Jauziyah berkata, “Barang siapa yang tidak memperhatikan pendidikan tentang apa saja yang bermanfaat bagi anaknya dan membiarkan anaknya terlantar, sungguh dia telah melakukan kejahatan yang terbesar kepadanya. Sebagian besar hal-hal negatif pada anak-anak sebenarnya hanyalah disebabkan oleh faktor orang tua yang tidak memberikan perhatian, menelantarkan pendidikan, dan menjauhkan mereka dari kewajiban-kewajiban dan anjuran-anjuran agama. Orang tua telah menyia-nyiakan mereka di waktu kecil sehingga ketika besar mereka tidak dapat mendayagunakan diri mereka, dan orang tua pun tidak dapat merasakan manfaat dari mereka.” 

Usaha awal akan menentukan bagaimana hasil akhirnya. Berat dan ringan jangan diperhitungkan dulu di awal. Sebagaimana kita berbisnis tidak terlalu mempertimbangkan kerugian di awal. Terkadang salah orang tua menganggap pembelajaran tahfizh yang intensif seperti karantina adalah penekanan pembiasaan yang membuat orangtua prihatin melihat anaknya keberatan. Ketahuilah, dalam mengayuh sepeda pun demikian. Maka jangan persepsikan beratnya anak menghafal menjadi alasan untuk berhenti, justru semakin berat akan semakin banyak pahala yang didapatkan. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: 

“Orang yang membaca Al Qur’an dengan baik adalah mereka yang bersama as-Safaratul Kiram (para malaikat yang mulia). Adapun orang yang masih belajar dan membaca Al Qur’an dengan susah payah adalah baginya dua pahala.” (HR. Bukhari) 

Menjadi hafizh tidak perlu ditargetkan 30 juz, plus dengan tahsin yang merdu, meskipun itu adalah tujuan ideal. Silahkan disesuaikan dengan metode yang ditempuh dan hasil yang diharapkan. Justru semakin banyak hafalan akan semakin sulit menjaganya, namun bukan berarti semakin dikit hafalan akan semakin mudah menjaganya. Banyak dan sedikit jumlah hafalan tidak menentukan tinggi rendahnya seseorang, bisa saja yang sedikit lebih banyak pahala karena sering diulang-ulang sedangkan yang banyak hafalannya lebih rendah karena sering dilupakan. Sudah capek-capek dihafal kok dengan mudahnya dilupakan. 

Tapi kalau ada yang menyediakan kesempatan menghafal 30 juz mengapa tidak? Semakin banyak hafalan akan semakin besar peluang mendapatkan kemuliaan Al Qur’an. Fastabiqul khoirot, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Minimal kita berharap demikian kepada Allah SWT. Setinggi apapun harapan kita insyaAllah akan dikabulkany-Nya, asalkan kita selaraskan dengan ikhtiar maksimal. 

Dari Mu’adz bin Anas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa membaca Al Qur’an dan mengamalkan kandungan isinya, niscaya pada Hari Kiamat Allah akan mengenakan kepada kedua orangtuanya sebuah mahkota yang cahayanya lebih indah daripada cahaya matahari di rumah-rumah dunia; maka apa pendapatmu tentang orang yang mengamalkan hal ini?” (HR. Abu Dawud) 

Terakhir, tetaplah berharap hanya kepada Allah walaupun sekeras apapun kita sudah berusaha. Berapapun uang yang sudah dikeluarkan, waktu yang sudah diberikan, juga perhatian yang sepenuhnya disampaikan. Selama tujuan kita mendidik hanya untuk mulia di mata manusia, maka jangan salahkan anakmu jika hasilnya justru tidak membekas. Bahkan mungkin saja tidak berhasil apapun. Padahal bisa saja anak yang tidak dilahirkan dari keturunan muslim namun bisa taat syariat dan hafal qur’an. Mengapa demikian? Karena petunjuk itu datangnya dari Allah SWT, bukan dari orang tua atau guru-guru tahfidz kepercayaan mereka. Ingatlah firman-Nya: 

إِنَّكَ لَا تَهۡدِي مَنۡ أَحۡبَبۡتَ وَلَٰكِنَّ ٱللَّهَ يَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِينَ 

“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (QS. Al Qashash: 56) 

Maka mulailah dari sekarang kita memohon agar Dia berkenan menjadikan keturunan kita anak shalih dan shalihah serta menjadi para penghafal dan pengamal Al Qur’an. Maha Suci Allah Yang memiliki segala kemuliaan dari apa yang mereka ucapkan, Rabb semesta alam.

__________________
Bandung, 27 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin, S.H

Didiklah Anakmu Menjadi Hafizh Qur'an Sejak Dini



Al Qur’an merupakan pedoman hidup manusia agar selamat dunia dan akhirat, juga mukjizat terakhir bagi kita umat Nabi Muhammad SAW. Perkataan yang paling sempurna dan tidak ada yang dapat menandinginya. Turunnya pada waktu mulia, diturunkan kepada manusia paling mulia di muka bumi. Sampai akhir zaman, kemuliaan itu terus terpancarkan sampai kepada orang yang mampu berinteraksi dengannya. Kemurnian Al Qur’an terus terjaga hingga akhir zaman, tidak ada yang sanggup membuat semisalnya atau sekedar mengubah sedikit ayatnya. 

Luar biasa mereka yang rela menghafal demi menjaga kemurnian Al Qur’an. Di antara para penghafal tersebut, ada banyak dari kaum anak-anak yang usianya mungkin masih belia. Bahkan tak jarang para hafizh qur’an yang menjuarai tingkat dunia di umurnya yang belum genap 8 tahun. Inspirasi keajaiban Al Qur’an pun sering kita dengarkan, semuanya membuat decak kagum berharap mempunyai salah seorang dari mereka berada di antara anggota keluarga kita. Meskipun kita kadang berfikir, rasanya tidak mudah menghadirkan sosok mulia hafizh qur’an bagi keturunan kita. Apa benar seperti itu? 

Menghafal memang membutuhkan proses panjang, tidak instan dan butuh perjuangan. Sebab dibutukan ilmu membaca, ilmu menghafal, ilmu menjaga hafalan, dsb. Secara psikologis pun diharuskan memiliki motivasi yang kuat, kesungguhan dan niat yang lurus, tidak bagi mereka yang hanya mencari ijazah semata. Belajar dari pengalaman para hafidz terkadang tidak cukup, mengikuti motivasi tahfidz sudah beberapa kali, berbagai metode dan cara sudah dilalui, dan tahapan lain yang harus ditempuh agar menjadi hafidz hebat. Jika mencoba menjadi hafidz qur’an berkualitas tidak mampu, minimal cukup hafal saja tidak perlu prestasi dalam perlombaan dianggap sudah cukup. 

Salahnya kita, anggapan berat yang terfikirkan dalam benak kita langsung ditransformasikan ke dalam pola pembinaan anak yang belum mencapai tingkat pendidikan yang cukup. Seperti anggapan berikut: 

“Ah, untuk orang dewasa seperti saya saja susah, apalagi untuk anak saya yang masih belajar membaca.”

“Kalau nanti anak saya fokus menghafal, lalu bagaimana dengan pelajaran setingkat teman-temannya yang sekelas nanti.”

“Saya belum yakin bisa punya anak hafal Al Qur’an, karena keluarganya saja masih belajar Islam. Nanti kalaupun dia sudah hafal, pas balik ke rumahnya lama-lama juga bakal hilang lagi hafalannya.”

Wahai para orangtua yang budiman, mencari alasan untuk tidak memberi kesempatan anak menghafal Al Qur’an adalah kesalahan fatal yang akan dirasakan penyesalannya di kemudian hari. Jika terus ditunda-tunda lalu kapan waktu agar anak dapat memulai perjuangannya menghafal qur’an? Seharusnya lebih cepat memberi kesempatan anak menghafal Al Qur’an akan lebih baik, terutama bagi anak yang masih berada di usia muda. Ada beberapa alasan, diantaranya: 

Alasan pertama, di usia muda anak masih tidak memiliki banyak fikiran. Mungkin yang difikirkan oleh usia anak-anak hanya main dan main, kadang untuk makan saja butuh diingatkan. Namun anda akan merasakan jika semakin tua akan semakin banyak fikiran karena beban untuk berfikir akan semakin banyak. Semakin tinggi tingkat pendidikan maka akan semakin banyak pengetahuan yang dipelajari, begitulah konsekuensi logis tingkatan pendidikan. Jika sudah banyak fikiran, wajar bila anak akan mudah menolak tawaran untuk menghafal Al Qur’an. 

Alasan kedua, anak ketika usia muda akan lebih mudah untuk diajak beraktivitas, karena jangkauan aktivitas masih belum luas. Jika anak belum masuk SD maka pengetahuan lingkungan yang dikenal hanya sebatas rumah dan tetangga, jika sebelum masuk SMP maka pengetahuan lingkungan hanya sebatas sekolah dan teman dekatnya. Berbeda dengan tingkatan pendidikan yang semakin tinggi akan meluaskan jangkauan pergaulan anak. Semakin luas pergaulan anak maka akan semakin sulit orangtua mengajak anaknya mengikuti program hafidz qur’an. Mengapa bisa begitu? Karena bagi dia ada banyak pertimbangan aktivitas yang harus dilakukan seiring dengan luasnya pergaulan anak kita. 

Alasan ketiga, semakin muda usia akan membuat hafalan semakin kuat. Sebagaimana peribahasa, belajar di waktu muda bagaikan mengukir di atas batu, belajar di waktu tua bagaikan mengukir di atas air. Memang akan lebih sulit menghafal di usia muda, namun hasilnya akan lebih berbekas. Berbeda jika usia menginjak tua akan mudah menghafal namun konsekuensinya akan mudah pula lupa. 

Alasan keempat, kebiasaan waktu muda akan dibawa hingga tua. Sejak kecil anak sering diajak ke masjid, maka tidak heran jika masa remaja hingga dewasanya terbiasa untuk ke masjid. Begitupun dengan bacaan sholat, mungkin seringnya kita membaca surat pendek berupa al Ikhlas atau al ‘Ashr karena dulu sewaktu kecil kita selalu dibiasakan membacanya. Atau kebiasaan kita terburu-buru setelah sholat langsung keluar tanpa dzikir, tidak lain dikarenakan kebiasaan kita tidak pernah menyempatkan waktu dzikir setelah sholat sejak kecil. Lalu bagaimana jika kita ingin agar anak kita sekalipun sudah dewasa masih tetap menjaga muroja’ah hafalannya? Tentu saja dibiasakan sejak kecil mengulang hafalannya. Jika di keluarga kita sudah punya kebiasaan membaca Al Qur’an setiap ba’da shubuh dan maghrib, seharusnya bisa kita tingkatkan sampai menghafal beberapa ayat tambahan. Sedikit pun tidak apa asalkan kebiasaan itu tetap dijaga. 

Keluarga adalah arena terpenting dalam pendidikan anak. Syaikh Abu Hamid al-Ghazali ketika membahas tentang peran kedua orang tua dalam pendidikan, beliau mengatakan, “Ketahuilah, bahwa anak kecil merupakan amanat bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang masih suci merupakan permata alami yang bersih dari pahatan dan bentukan, dia siap diberi pahatan apa pun dan condong kepada apa saja yang disodorkan kepadanya. Jika dibiasakan dan diajarkan kebaikan, dia akan tumbuh dalam kebaikan. 


Dan berbahagialah kedua orangtuanya di dunia dan akhirat, juga setiap pendidik dan gurunya. Tapi jika dibiasakan kejelekan dan dibiarkan sebagaimana binatang ternak, niscaya akan menjadi jahat dan binasa. Dosanya pun ditanggung oleh pengurus dan walinya. Maka hendaklah ia memelihara, mendidik dan membina serta mengajarinya akhlak yang baik, menjaganya dari teman-teman jahat, tidak membiasakannya bersenang-senang dan tidak pula menjadikannya suka kepada kemewahan, sehingga akan menghabiskan umurnya untuk mencari hal tersebut bila dewasa.”[1]


Oleh karena itu, mulai sekarang hapus semua persepsi keberatan untuk melatih anak menghafal Al Qur’an. Menunda-nunda kebiasaan baik akan memberikan waktu luang diisi oleh kebiasaan buruk lainnya. Bukankah melahirkan calon hafidz qur’an butuh waktu dan usaha yang tidak instan? Segera bicarakan dengan anakmu, yakinkan mereka bahwa menghafal adalah ilmu yang utama, bahkan dibutuhkan sekalipun sudah lulus sekolah hingga mati kelak. 

Untuk mengetahui apa saja keutamaan menghafal Al Qur’an silahkan bisa baca banyak referensi terkait hal itu. Salah satu keutamaannya para penghafal Al Qur’an yakni mereka yang telah Allah masukkan sebagai orang-orang khusus kepercayaan-Nya, mereka adalah keluarga ahlul qur’an. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: 


“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka yang Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para Ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.” (HR. Ahmad) 


__________________
Bandung, 27 Juli 2019
Muhamad Afif Sholahudin

========
[1] Muhammad Hamid an-Nashir dan Khaulah Abdul Qadir Darwisy, Tarbiyah al-Athfal fi Rihab al-Islam fi al-Bait wa ar-Raudhah, hlm. 41

Saturday, 29 June 2019

Berbahagialah Mereka Yang Sudah 'Menyiapkan' Kuburannya


Ada perkataan indah yang disampaikan oleh Yahya bin Muadz Ar-Razi dan dikutip oleh Imam An Nawawi dalam kitabnya Nasha’ihul ‘Ibad, perkataannya berbunyi seperti ini: 

“Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya, yang membangun kuburannya sebelum memasukinya, dan yang ridha terhadap tuhan-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya.” 

Dijelaskan oleh Imam An-Nawawi bahwa yang dimaksud: “Berbahagialah orang yang meninggalkan dunia sebelum dunia meninggalkannya” adalah mereka yang menghabiskan harta untuk amal kebajikan sebelum harta itu Allah SWT cabut darinya. Dan yang dimaksud, “Yang membangun kuburannya sebelum memasukinya” adalah mereka yang memperbanyak amal shalih saat hidup di dunia sehingga ia bisa merasakan kedamaian di alam kubur saat kematiannya. Dan yang dimaksud, “Yang ridha terhadap tuhan-Nya sebelum berjumpa dengan-Nya” adalah mereka yang menjalankan seluruh perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya sebelum menghadap Allah untuk mempertanggungjawabkan amalnya. 

Coba renungi lebih dalam sisa-sisa umur kita, apakah benar kita termasuk orang yang beruntung menerima kebahagiaan dunia? Saya sendiri pun kaget ketika melihat umur sendiri, "Kok begitu cepat ya waktu tak terasa umur sudah semakin tua." Hidup hanya dihabiskan untuk mencari harta, harta, harta. Banyaknya harta tidak menjamin kebahagiaan dunia, karena bahagia tidak bisa diukur oleh harta. Atau mungkin di antara kita banyak menghabiskan sesuatu yang tidak bermanfaat, bahkan untuk kemaksiatan. 

Ada yang sanggup membeli segelas kopi dengan harga puluhan ribu tapi begitu susah mengeluarkan selembar 5 ribuan untuk bersedekah. Ada yang begitu mudah dan sering membeli kamar hotel mewah dengan biaya jutaan semalamnya, tapi begitu susah ketika adzan berkumandang mengayuh kaki agar menuntunnya ke masjid padahal masuk masjid tidak bayar . Ada yang begitu mudah membangun rumah mewah, gedung bertingkat, tapi betapa berat bagi dia untuk menyumbang pembangunan masjid padahal lokasinya berada di dekat rumahnya. 

Rasulullah SAW bersabda, “Ada dua perkara yang tidak disukai oleh anak Adam. Pertama, anak adam tidak menyukai kematian, padahal kematian itu lebih baik bagi seorang mukmin daripada fitnah. Kedua, anak adam tidak menyukai sedikitnya harta, padahal sedikitnya harta meringankan penghisaban.” (HR. Ahmad) 

Terlena dengan sedikitnya nikmat dunia, namun terlena dengan luasnya nikmat akhirat. Menyesal kita berjuang saat berjuang mati-matian untuk sesuatu yang tidak akan dibawa mati. Saat hari esok (kematian) itu tiba, barulah sadar bahwa yang kita lakukan hanyalah sebuah kesia-siaan yang berujung kepada penyesalan. Astagfirullahal‘adzim.. 

Allah SWT pernah memperingatkan kita dalam Firman-Nya: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا تُلۡهِكُمۡ أَمۡوَٰلُكُمۡ وَلَآ أَوۡلَٰدُكُمۡ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِۚ وَمَن يَفۡعَلۡ ذَٰلِكَ فَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡخَٰسِرُونَ وَأَنفِقُواْ مِن مَّا رَزَقۡنَٰكُم مِّن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَ أَحَدَكُمُ ٱلۡمَوۡتُ فَيَقُولَ رَبِّ لَوۡلَآ أَخَّرۡتَنِيٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ قَرِيبٖ فَأَصَّدَّقَ وَأَكُن مِّنَ ٱلصَّٰلِحِينَ وَلَن يُؤَخِّرَ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِذَا جَآءَ أَجَلُهَاۚ وَٱللَّهُ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ 

“Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. Dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah Kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Rabb-ku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?" Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al Munafiqun: 9-11) 

Salah satu alasan utama manusia saat meninggal memohon agar bisa bersedekah adalah disebabkan sisa umurnya hanya dihabiskan untuk mencari dunia, sedangkan hanya harta yang ia punya untuk menyelamatkannya. Ilmu sedikit, ibadah pun tidak lama. Namun ketika harta banyak, tapi lupa untuk disyukuri dengan banyak bersedekah. 

Banyak orang berlomba-lomba membangun bangunan di dunia padahal hanya untuk hidup sementara saja, namun tidak banyak yang tertarik berlomba ‘membangun kuburan’ mereka dengan memperbanyak amal shalih untuk bekal di dalamnya. Padahal kuburan itulah rumah abadi kita, tempat tinggal di kehidupan kedua. Betapa banyak orang sibuk dengan aktivitasnya padahal kain kafannya sudah dirajut untuk kita. 

Banyak yang tidak mengerjakan perintah Allah dan justru mengerjakan larangan-Nya seakan-akan ia ia hanya bertemu dengan rabb-Nya di hari akhir nanti, padahal sejatinya pertemuan pertama yang ia jumpai akan ditanya apa saja yang dia lakukan di dunia. Terlena dengan dunia namun lupa akhirat. 

Seharusnya kita berharap sebagaimana harapan Abu Bakar kepada tuhan-Nya, “Jadikan dunia ini di genggamanku, bukan di hatiku.” Betul dan sesuai realitas. Bahwa dunia jika dalam genggaman mudah untuk diatur dan dilepas. Berbeda jika sudah melekat di hati, sulit untuk diatur dan sulit untuk dilepas. 

Banyaklah beramal sebagaimana kamu merasa pesimis dengan amalmu. Begitulah kira-kira nasehat sahabat terdahulu, “Hiduplah kalian di dunia sebagaimana kalian akan hidup selamanya, dan beribadahlah kalian di dunia sebagaimana kalian akan mati esok.” Mencari nikmat dunia tidak aka nada habisnya, maka jangan terlalu rakus karena mungkin masih ada hari esok. Namun merasa rakuslah ketika beramal karena mungkin ini adalah amalan terakhir kita. 

Agar kita tidak terjebak dengan perilaku buruk di atas, alangkah baiknya kita selalu merasa pesimis dan berkecil hati menilai diri sendiri dan amal bekal masing-masing. Syaikh Abdul Qadir Jailani pernah bertutur nasehat: 

1. Kalau anda berjumpa dengan seseorang, anda lihat keutamaan dan keunggulan dirinya daripada anda, serayaberkata, “Bisa jadi Allah menjadikan dia lebih baik dan lebih tinggi derajatnya daripada aku.” 
2. Kalau anda berjumpa dengan yang lebih muda, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena ia lebih sedikit maksiat ketimbang aku.” 
3. Kalau anda berjumpa dengan yang lebih tua, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena ia lebih lama beribadah ketimbang aku.” 
4. Kalau anda berjumpa dengan orang berilmu, katakanlah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, mendapat karunia yang tidak aku peroleh, mengetahui banyak hal yang tidak aku ketahui dan mengamalkan ilmunya.” 
5. Kalau anda berjumpa dengan orang bodoh/awam, berkatalah, “Bisa jadi ia lebih baik daripada aku, karena maksiat ia disebabkan ketidaktahuan dan ketidaksadarannya, sedangkan jika aku bermaksiat tentu dengan sepenuh pengetahuan dan kesadaranku.” 

Sikap rendah hati dan tahu diri, karena bisa jadi ada amal yang belum tentu sudah kita amalkan, tapi cukup kita anggap orang lain sudah mengamalkan. Dengan begitu, kita terpacu untuk berbuat amal kebaikan, meninggalkan yang buruk, karena kita menganggap diri kita kurang pahala tapi banyak dosa. Seandainya kita disibukkan dengan aktivitas-aktivitas penuh kebajikan, maka tak sempat waktu kita untuk mengerjakan keburukan. 

Tujuan kita bukan terlihat mulia di dunia, karena manusia bukanlah standar penilaian. Biarkan Allah yang menilai siapa diri kita, pantaskah dimasukkan di surganya. Benar kata imam Ali, “Jadilah anda besar (mulia) di mata Allah, dan kecil di mata manusia.” 


Paris Van Java, 29 Juni 2019
Bandung, 27 Syawwal 1440 H
Muhamad Afif Sholahudin


Saturday, 15 June 2019

One Belt One Road (OBOR) Perspektif Ekonomi dan Politik


Sebuah proyek prestisius digelontorkan oleh Cina, proyek yang menghubungkan perdagangan antara Asia, Afrika dan Eropa yaitu One Belt One Road. OBOR dianggap menjadi visi geoekonomis China paling ambisius dengan melibatkan 65 negara, dan melingkupi 70% populasi dunia. Konsep ini akan menelan investasi mendekati US $4Milyar, termasuk $900 juta yang telah diumumkan China. 

Inisiatif OBOR melibatkan 65 negara mulai dari Asia hingga ke Eropa. Dengan demikian, inisiatif ini akan menghubungkan negara-negara yang mewakili 55 persen produk nasional bruto (Gross National Product, GNP), 70 persen populasi global, dan 75 persen cadangan energy dunia. Sementara itu, Menteri Perdagangan Tiongkok mengumumkan bahwa dalam semester pertama tahun 2015 perusahaan perusahaan Tiongkok telah menandatangani 1.401 kontrak proyek di negara-negara yang masuk ke dalam kerangka Inistiatif OBOR. Nilar kontrak proyek tersebut setara dengan 37,6 miliar dollar Amerika Serikat dan mewakili 43,3 persen dari seluruh kontrak luar negeri yang ditandatangani oleh berbagai perusahaan Tiongkok dalam periode waktu yang sama. 

Pada 27 April 2019 lalu baru saja dilakukan penandatanganan 23 Memorandum of Understanding (MoU) antara sejumlah pebisnis Indonesia dan China dalam acara Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) II Belt Road Initiative (BRI) di Beijing. Sejumlah pejabat teras Indonesia menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Belt and Road Initiative (BRI) di Cina. Sejak 24 hingga 27 April 2019, Indonesia akan berupaya menawarkan 28 proyek strategis senilai Rp1.287 triliun untuk memperoleh pembiayaan dari institusi finansial di Cina. 

SEJARAH OBOR

Pada tahun 2013 pemimpin Tiongkok, Presiden Xi Jinping dan Perdana Menteri Li Keqiang melakukan kunjungan ke 22 negara yang menandai karakter baru kebijakan luar negeri Tiongkok. Dari 22 negara yang dikunjungi oleh kedua pemimpin tersebut, 12 kunjungan dilakukan ke negara-negara yang menjadi tetangga dekat Tiongkok, yaitu Rusia, Turkemenistan, Kazakhtan, Uzbekistan, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Vietnam, Thailand, India dan Pakistan. 

Di Kazakhtan, Presiden Xi Jinping menyampaikan inisiatif “Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (Silk Road Economic Belt)” dengan tujuan utama untuk menghubungkan Tiongkok hingga Eropa melalui jalur darat. Di Indonesia, Presiden Xi Jinping menyampaikan inisiatif “Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 (The 21st Maritime Silk Road)” dengan tujuan utama untuk menghubungkan Asia, Afrika, dan Eropa melalui jalur transportasi laut. Dalam visi pemerintah Tiongkok, Sabuk Ekonomi Jalur Sutra akan menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, Rusia, dan Eropa (khususnya kawasan Baltik). Pada saat bersamaan, Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 akan terentang mulai dari pesisir Tiongkok hingga Eropa melalui Laut Tiongkok Selatan dan Samudera Hindia di satu sisi, dan dari pesisir Tiongkok hingga kawasan Pasifik Selatan melalui Laut Tiongkok Selatan 

Pemimpin Tiongkok menggagas satu mekanisme kerja sama multilateral yang dikenal dengan inistiatif One Belt One Road atau juga dikenal dengan Jalur Sutra Baru (New Silk Road Economic Belt) yang terdiri dari Jalur Sutra Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim abad ke-21 (21st Maritime Silk Road). Jalur Sutra Ekonomi merujuk kepada Jalur Sutra kuno yang berfungsi sebagai jalur aktivitas perdagangan dan pertukaran budaya sepanjang 10.000km mulai dari Tiongkok hingga ke Roma. Catatan sejarah Jalur Sutra kuno ini dapat dilacak kembali hingga ke masa Dinasti Han (206 sebelum Masehi hingga tahun 220 Masehi) ketika Duta Besar Zhang Qian dikirim untuk membina hubungan persahabatan ke negara-negara di wilayah Barat Jauh Tiongkok. Sedangkan jejak sejarah Jalur Sutra Maritim dapat dilacak hingga ke masa Dinasti Song (960-1279), di mana kekaisaran Tiongkok memulai pelayaran ke kawasan Asia Tenggara yang pada saat itu dikenal dengan Nanyang. Pada masa ini, Dinasti Song mulai membangun hubungan luar negeri dengan kerajaan-kerajaan di kawasan Nanyang. 

Jalur Sutra Ekonomi bertujuan untuk meningkatkan kerja sama ekonomi Tiongkok dengan negara-negara di kawasan Asia Tengah. Upaya meningkatkan kerja sama ekonomi ini menjadi penting seiring dengan meningkatnya pengaruh politik global Tiongkok yang dipersepsikan sebagai potensi ancaman bagi negara-negara di Asia Tengah. Indikasi dari persepsi ini dapat kita lihat dari manuver-manuver politik yang dilakukan oleh negara-negara di kawasan ini dalam menjaga hubungannya dengan Rusia dan Tiongkok. 

Sementara itu Jalur Sutra Maritim bertujuan untuk memperbaiki hubungan Tiongkok dengan negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara dengan menekankan pada kerja sama di bidang keamanan jalur perdagangan maritim. Inisiatif Jalur Sutra Maritim abad ke- 21 bertujuan untuk menetralisir persepsi negatif negara-negara Asia Tenggara dan Asia Selatan terhadap Tiongkok dengan menekankan pada kerja sama ekonomi yang meliputi kerja sama keuangan, proyek pembangunan infrastruktur (seperti pembangunan jalan dan rel kerata api), dan upaya meningkatkan kerja sama di bidang keamanan. Ide tentang Jalur Sutra Maritim Abad ke-21 juga memberi penekanan pada pentingnya aspek maritim dari peningkatan kerja sama Tiongkok dengan negara-negara di Asia Tenggara dan Asia Selatan melalui penguatan ekonomi maritim dan kerja sama teknis dan ilmiah di bidang lingkungan hidup. 

Selain itu, Pemimpin Tiongkok juga mempromosikan kerangka kerja sama ‘2+7’melalui gagasan Jalur Sutra Maritim Abad ke-21. Secara singkat, kerangka kerja sama 2+7 adalah konsensus yang ditawarkan pemerintah Tiongkok mengenai dua isu dan tujuh proposal. Kedua isu tersebut adalah kepercayaan sebagai bagian dari prinsip bertetangga dengan baik antar negara-negara dan kerja sama ekonomi berdasarkan prinsip yang saling menguntungkan. Sedangkan tujuh proposal meliputi: 

  1. Penandatanganan perjanjian mengenai hidup bertetanggga dengan baik (good neighbor) antara Tiongkok dan ASEAN; 
  2. Meningkatkan efektifitas kesepakatan perdagangan bebas (free trade agreement, FTA) antara Tiongkok dan ASEAN serta mengintensifkan negosiasi Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP); 
  3. Melakukan akselerasi proyek pembangunan infrastruktur bersama; 
  4. Memperkuat kerja sama dan pencegahan resiko keuangan regional; 
  5. Kerja sama di bidang maritim yang lebih erat; 
  6. Meningkatkan kolaborasi di bidang keamanan; dan 
  7. Meningkatkan hubungan antar-masyarakat (people-to-people) melalui kerja sama di bidang kebudayaan, ilmiah, dan perlindungan lingkungan hidup. 

Melihat visi tersebut, inisiatif OBOR merupakan visi pembangunan konektifitas lintas benua melalui jalur darat dan laut. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah Tiongkok menegaskan bahwa inisiatif OBOR merupakan kesempatan bagi berbagai Negara untuk mendapatkan keuntungan timbal-balik melalui pendanaan bersama pembangunan fasilitas infrastruktur yang melintasi kawasankawasan yang disebutkan di atas. Lebih spesifiknya, pemerintah Tiongkok menawarkan lima area prioritas kerja sama, yaitu (1) koordinasi kebijakan, (2) konektifitas fasilitas, (3) perdagangan bebas (unimpeded trade), (4) integrasi keuangan, dan (5) kerja sama di tingkat akar rumput. 


OBOR Agenda Keamanan Liberal Tiongkok 

Jika dilihat inisiatif OBOR secara keseluruhan, maka hal ini tidak terlepas dari upaya komprensif Tiongkok untuk mewujudkan keamanannya. Dalam kontek mewujudkan kepentingan keamanannya ini, Tiongkok tidak hanya semata-mata ingin mengamankan jalur laut di wilayah Laut Tiongkok Selatan tetapi juga mengupayakan jalur transportasi alternatif terhadap komoditas ekspor dan impor mereka melalui jalur darat dengan mencari akses menuju Teluk Benggala tanpa harus melalui Selat Malaka. Kebutuhan inilah yang menjadi latar belakang interaksi yang cukup tinggi antara Tiongkok dengan Myanmar, yang dapat menjadi pintu gerbang menuju Teluk Benggala dan Samudera Hindia. Analisis yang kurang lebih serupa juga dapat kita lihat dari peningkatan hubungan Tiongkok dengan Pakistan. Dengan meningkatkan kerja sama dengan Pakistan melalui proyek kerja sama pembangunan infrastruktur seperti pembangunan jalan raya, rel kereta api, dan pipa gas, Tiongkok akan memiliki akses yang lebih terbuka menuju Teluk Persia dan kawasan Timur Tengah secara keseluruhan. Singkatnya, upaya Tiongkok untuk meningkatkan kerja sama dengan negara-negara seperti Myanmar dan Pakistan bertujuan untuk memangkas waktu tempuh transportasi berbagai komoditas penting bagi mereka dan menjadikan hubungan perdagangan tidak lagi terlalu bergantung terhadap jalur tranportasi maritim yang selalu memiliki masalah keamanan. Uraian analisis di atas menunjukkan bahwa insiatif OBOR Tiongkok yang terdiri dari Jalur Sutra Ekonomi dan Jalur Sutra Maritim tidak terlepas dari upaya pemerintahan Tiongkok untuk mewujudkan kepentingan keamanannya. 

Dalam konteks inisiatif OBOR, pemerintahan Tiongkok menunjukkan bahwa upaya untuk mencapai kepentingan Tiongkok adalah dengan meningkatkan stabilitas regional melalui kerja sama yang lebih erat dengan negara-negara tetangganya. Langkah pertama untuk menciptakan stabilitas di kawasan yang memiliki makna penting bagi Tiongkok adalah melalui berbagai dialog dan pertemuan tingkat tinggi. Hal inilah yang menjadi alasan pemerintahan Tiongkok untuk meningkatkan hubungan bilateral negaranya dengan negaranegara lain menjadi ‘kemitraan strategis (strategic partnership)’. 

Inisiatif OBOR merupakan bagian integral dari upaya Tiongkok untuk menjaga stabilitas dalam negeri dan menciptakan perdamaian di kawasan, namun pada saat yang sama juga menunjukkan peningkatan pengaruh globalnya dan posisinya sebagai negara kuat di kawasan. Jika dielaborasi lebih detil, lingkungan strategis internasional Tiongkok dipengaruhi oleh beberapa perkembangan kontemporer yaitu 
  1. Pergeseran poros politik luar negeri Amerika Serikat ke Asia (beberapa contohnya adalah negosiasiasi TPP yang tengah digagas oleh Amerika Serikat; penguatan kerja sama Amerika Serikat dengan negara-negara ASEAN, seperti dukungan Amerika Serikat dalam proses demokratisasi di Myanmar serta kerja sama keamanan yang lebih dekat dengan Singapura, Filipina, Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Brunei Darussalam); 
  2. Upaya Rusia untuk mengembalikan pengaruhnya di kawasan Asia Tengah; dan 
  3. Manuver negara-negara di kawasan Asia Tengah yang menunjukkan keengganan untuk bergantung kepada Tiongkok. 
Keseluruhan dari berbagai pekembangan kontemporer tersebut tidak memberi pilihan lain bagi Tiongkok selain berupaya untuk terlibat lebih aktif dalam politik internasional di kawasan sebagai kekuatan baru yang sedang bangkit. Namun pada saat yang bersamaan, Tiongkok berupaya menujukkan keterlibatan aktif tersebut dengan menggunakan bahasa yang lunak dan menggunakan narasi sejarah yang positif sebagai dasar bagi negaranegara agar terlibat dalam mekanisme kerja sama multilateral yang ditawarkan Tiongkok. 

Jika Amerika Serikat akan mencoba membendung Tiongkok di kawasan Asia Pasifik, maka Rusia tampaknya akan mencoba melakukan hal yang sama untuk kawasan Asia Tengah. Bagi Rusia, kawasan Asia Tengah merupakan halaman belakang dari politik internasionalnya. Rusia selalu menjadi patron untuk kawasan ini dan akan selalu memastikan sentralitas posisinya. Kebangkitan Tiongkok, dan terlebih lagi dengan adanya inisiatif OBOR yang akan meningkatkan pengaruh Tiongkok di Asia Tengah akan menjadi ancaman bagi hegemoni Rusia di kawasan ini. Tidak hanya di Asia Tengah, Rusia juga mulai merasa terancam di kawasan Siberia dan kawasan Timur Jauhnya seiring dengan makin banyaknya migrasi warga Tiongkok ke kedua kawasan tersebut. 

Di kawasan Asia sendiri, inisiatif OBOR Tiongkok juga dapat menimbulkan dilema tersendiri bagi India. Dalam konteks persaingan memperebutkan posisi hegemon di Asia, India mempersepsikan inisiatif OBOR sebagai strategi ‘untaian mutiara (string of pearls),’ yaitu upaya Tiongkok untuk membendung India di kawasan. Untuk menandingi inisiatif OBOR Tiongkok tersebut, India juga melansir gagasan mekanisme kerja sama multilateral yang dikenal dengan ‘Project Musam’. Melalui Project Musam ini India pada dasarnya berusaha memposisikan dirinya di dua level. Di level makro, India berupaya untuk menghubungkan dan membangun kembali komunikasi antara negara-negara yang berada di pesisir Samudera Hindia guna meningkatkan saling pemahaman melalui nilai-nilai budaya. Sedangkan di level mikro, proyek ini bertujuan untuk membangun budaya nasional India guna memposisikan dirinya dalam politik maritim regional. Walaupun kerja sama ekonomi antara Tiongkok dan India mengalami peningkatan di tahun tahun terakhir, namun pengamat di Tiongkok manyadari bahwa India memiliki intensi untuk menjadi kekuatan global yang memiliki peran penting dalam politik internasional. Hanya saja, India tidak akan bergantung kepada kekuatan ekonomi Tiongkok untuk mewujudkan intensinya tersebut, namundengan mengandalkan kekuatan militer Amerika Serikat. 

Dari paparan diatas dapat disimpulkan bahwa OBOR / BRI adalah salah satu upaya Tiongkok untuk menjadi adidaya Kawasan terutama di Asia dan Pasifik dan tidak mungkin OBOR adalah upaya Tiongkok untuk menjadi adidaya Internasional menggeser Amerika 


OBOR Penjajahan lewat Hutang 

Bagi China ada tiga keuntungan besar Proyek OBOR yaitu dengan tersalurnya dana cadangan devisa yang melimpah. Pertama, dana tersebut tetap produktif. Kedua, tersedia lapangan kerja baru untuk tenaga kerjanya yang juga melimpah. Ketiga, memperkuat pengaruh China dalam geopolitik global. 

Adapun bagi Indonesia dan negara yang telah melakukan kerja sama, lebih banyak buntungnya. Hal itu tampak dari beberapa jebakan yang sudah disiapkan China untuk mencengkeram negara tujuan kerja sama OBOR: 

Pertama, pinjaman itu tidak gratis. Proyek-proyek tersebut mempersyaratkan kerjasama dengan perusahaan China. Alat mesin, barang-barang produksi, semua dari China. Dan yang lebih penting lagi melibatkan tenaga kerja. Kerjasama semacam ini disebut sebagai Turnkey Project. Pemerintah setempat tinggal “menerima kunci,” karena semuanya sudah dibereskan China. 

Selain membanjirnya tenaga kerja China, proyek OBOR juga banyak menimbulkan petaka bagi negara bantuan. Fenomena ini disebut sebagai jebakan utang China. The China’s Debt Trap. 

Kedua, gagal bayar proyek diserahkan ke China. Pemerintah Srilanka terpaksa menyerahkan pelabuhan laut dalam Hambantota karena tidak bisa membayar utangnya. Banyak pengamat yang mengkhawatirkan di bawah kendali China, pelabuhan itu akan dipergunakan sebagai pangkalan kapal selam untuk mengontrol kawasan di Samudera Hindia, dan Laut China Selatan. 

Di Afrika, China juga berhasil mengambil-alih sebuah pelabuhan di Djibouti karena tidak bisa membayar utang. Langkah ini membuat kesal Amerika Serikat (AS) karena Djibouti menjadi pangkalan utama pasukan AS di Afrika. “Beijing mendorong negara lain mempunyai ketergantungan utang, dengan kontrak-kontrak yang tidak jelas, praktik pinjaman predator, kesepakatan korup yang membuat negara-negara lain terlilit utang,” kecam Menlu AS Rex Tillerson. 

Mengutip data Center for Global Development 2018 yang menyatakan terdapat 8 negara peserta BRI yang diprediksi gagal membayar pinjaman itu. Kedelapan negara itu adalah Djibouti, Kyrgyztan, Laos, the Maldives, Mongolia, Montenegro, Pakistan, dan Tajikistan. Tiga di antaranya telah melepas pelabuhan hingga tanahnya bagi pemerintah Cina sebagai ganti utang itu. Salah satunya bahkan dibangun pangkalan militer. 

Ketiga, wilayah jajahan baru. Pemerintah Indonesia jika tidak paham upaya kolonilisasi China melalui OBOR, serta tidak menyiapkan diri menolaknya maka nasib Indonesia bisa saja sial. Indonesia hanya akan menjadi keran bahan baku bagi produsen-produsen global. Kondisi tersebut dengan praktik VOC atau Kongsi Dagang atau Perusahaan Hindia Timur Belanda jilid II. 

Keempat, penguasaan SDA dan ekonomi. Jika OBOR dibiarkan, dalam jangka waktu ke depan, Indonesia berpotensi besar dalam orbit ekonomi China. Terkurasnya kekayaan alam Indonesia, banjirnya produk China hingga mematikan produk lokal, menyempitnya lahan dan lapangan pekerjaan bagi anak bangsa ini, bisa terjadi. Indonesia yang kaya, akan menjadi miskin, pengangguran tidak teratasi maksimal, dan bahaya krisis lahan ekonomi untuk rakyat, akibat ekspansi ekonomi China. 

OBOR PENJAJAHAN GAYA BARU 

Sangat jelas bahwa OBOR ini membawa skema investasi asing, utang luar negeri, dan penjajahan gaya baru. Tak ayal kesemuanya itu jelas-jelas merugikan Indonesia. Karena itu penolakan harus tegas dan jelas oleh semua elemen umat Islam. Penolakan itu sangat beralasan sebab: 
Bahaya Investasi Asing 

Abdurrahman al-Maliki dalam Politik Ekonomi Islam mengemukakan, sesungguhnya pendanaan proyek-proyek dengan mengundang investasi asing adalah cara yang paling berbahaya terhadap eksistensi negeri-negeri Islam. Investasi asing bisa membuat umat menderita akibat bencana yang ditimbulkannya, juga merupakan jalan untuk menjajah suatu negara. 

Pinjaman (investasi asing) yang diberikan Cina, diikat dengan berbagai syarat seperti adanya jaminan dalam bentuk aset, adanya imbal hasil seperti ekspor komoditas tertentu ke Cina hingga kewajiban negara pengutang agar pengadaan peralatan dan jasa teknis harus diimpor dari Cina. Mengutip riset yang diterbitkan oleh Rand Corporation, China’s Foreign Aid and Government Sponsored Investment Activities, disebutkan bahwa utang yang diberikan oleh Cina mensyaratkan minimal 50 persen dari pinjaman tersebut terkait dengan pembelian barang dari Cina. 

Selain harus membayar bunga yang relatif tinggi, juga disyaratkan agar BUMN Indonesia yang menggarap proyek-proyek tersebut yang dibiayai oleh utang dari Cina harus bekerjasama dengan BUMN negara itu. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika dalam berbagai proyek pengembangan infrastruktur di negara ini, kehadiran dan peran perusahaan-perusahaan Cina menjadi sangat dominan mulai dari perencanaan, pengadaan barang dan jasa hingga konstruksi (engineering, procurement, construction [EPC]). 

Secara ideologis, haluan ekonomi politik negeri ini sudah menjadi haluan ekonomi dan politik yang mengabdi kepada kepentingan bangsa lain, sepeti Amerika, Jepang, Eropa, dan juga Cina. Salamuddin Daeng, Peneliti Indonesia for Global Justice mengemukakan pandangannya bahwa kita bernegara, kita berkonstitusi hanya menyediakan suatu ruang, bahkan dalam bentuk yang paling asli, kita menyediakan tanah, gedung, jalan, infrastruktur, dan segala macamnya yang ada di negeri ini, semata-mata untuk memfasilitasi bangsa lain untuk mengeruk kekayaan negara kita. 
Bahaya Utang Luar Negeri 

Pembekakan Utang Luar Negeri dan Dalam Negeri akan membebani pembayaran cicilan pokok dan bunga yang juga makin tinggi. Makin besar jumlah hutang, jumlah kas negara yang tersedot untuk bayar utang makin besar. Akibatnya, kapasitas APBN untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan rakyat makin terbatas. 

Resiko terbesarnya ialah gagal bayar utang. Zimbabwe, Sri Lanka, dan negeri lainnya bisa menjadi contoh. Selain bisa membangkrutkan negeri ini, tentu utang itu disertai bunga alias riba yang diharamkan dalam Islam. Rasulullah Saw bersabda: 

“Jika zina dan riba telah tersebar luas di satu negeri, sungguh penduduk negeri itu telah menghalalkan adzab Allah bagi diri mereka sendiri” (HR al-Hakim, al-Baihaqi, dan ath-Thabari) 

Selain itu, perekonomian yang dibangun atas pondasi riba tidak akan pernah stabil. Akan terus goyah bahkan terjatuh dalam krisis secara berulang. Akibatnya, kesejahteraan dan kemakmuran yang merata untuk rakyat serta kehidupan yang tentram akan terus jauh dari capaian. 
Bahaya Penjajahan Gaya Baru (Neo-Imprealisme) 

Metode baku negara kapitalisme, baik Barat dan Timur, yaitu penjajahan. Penjajahan dalam bentuk politik dan ekonomi. Negara yang dijajah akan dikeruk kekayaan alamnya, dijauhkan dari agamanya (Islam), dan eksploitasi besar-besaran. Penjajahan ini untuk melemahkan semangat kaum muslim bangkit kembali kepada Islam. 

Neo-imprealisme inilah yang sering tidak dipahami umat. Hal ini disebabkan uslub penjajahannya bisa bersifat halus tak kasat mata, misalnya bantuan, skema utang, kerja sama, dll. Ada pula yang kasat mata untuk mendudukan suatu wilayah dengan hegemoni militer. 

Sudah selayaknya negeri-negeri muslim menolak proyek OBOR ini, sebagai bentuk kolonialisasi China atas negeri-negeri muslim. Negeri yang mayoritas penduduknya muslim ini, sudah selayaknya dikelola dengan aturan yang berasal dari Allah SWT, bukan justru penguasa bergandengan tangan dengan negara berideologi komunis, China, anti Tuhan. 

Penerapan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan akan membuat negeri negeri muslim menjadi negara yang berdaulat, mampu mensejahterakan rakyatnya dengan karunia sumber daya alam yang melimpah. Saatnya negeri ini hidup di bawah naungan Khilafah Islamiyah ala minhaji nubuwwah, untuk menyelamatkan umat, mengelola sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat, dan hidup berkah dalam ridho-Nya, sebagaimana yang dipraktekkan pada masa Khulafaur Rasyidin.

Wednesday, 27 March 2019

Hati-hati Dalam Merespon Seruan Penerapan Syariah dan Khilafah


Oleh: Ust Azizi Fathoni

Hati-hati, jangan anggap remeh ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah. Dalam kitab al-Adzkaar min Kalam Sayyidil Abraar, al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i (w. 676 H) menuliskan sebuah bab khusus:

باب ما يقوله من دعي إلى حكم الله تعالى

“Bab apa yang selayaknya diucapkan oleh orang yang diajak berhukum dengan hukum Allah ta’ala”

Di situ beliau menjelaskan kalimat apa yang harusnya diucapkan oleh orang yang diseru atau diajak untuk berhukum dengan hukum syari’at:

... أن يقول سمعنا وأطعنا ، أو سمعا وطاعة ، أو نعم وكرامة ، أو شبه ذلك

“…hendaknya orang tersebut menjawab dengan ucapan: “kami dengar dan taati”, atau “kami patuh dan taat”, atau “ya, dengan segala hormat”, atau yang semacamnya.”

Beliau sekaligus mencantumkan ayat berkenaan dengan itu:

إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (An Nuur: 51)

Jadi mukmin yang sejati itu dilarang menolak seruan kepada hukum Allah. responnya harus positif meng-iya-kan, menyetujui, menerima seruan, dan yang semacamnya dengan penuh rasa tunduk dan patuh.

Al-Imam an-Nawawi lebih lanjut mengingatkan:

وليحذر كل الحذر من تساهله عند ذلك في عبارته، فإن كثيرا من الناس يتكلمون عند ذلك بما لا يليق، وربما تكلم بعضهم بما يكون كفرا

“Hendaknya ia sangat berhati-hati dari memandang remeh perkataannya pada saat itu (saat merespon ajakan untuk berhukum dengan hukum Allah), karena banyak di antara manusia mengucapkan ucapan tak layak saat ada pada kondisi tersebut. Bahkan boleh jadi di antara mereka mengucapkan perkataan yang menyebabkan kekafiran.”

Bagaimana contoh ungkapan tidak layak dan bahkan sebagian dapat menyebabkan kekafiran itu? “emang negara mana yang sudah berhasil menerapkan? (dengan nada sinis menolak)”, “penerapan hukum Allah dapat membahayakan umat Islam”, “Seruan itu perkataan benar tapi untuk tujuan batil”, “Penerapan syari’ah dan khilafah melanggar kesepakatan founding fathers negara ini”, “penerapan syari’at sudah tidak relevan”, “penerapan syari’ah dan khilafah di negeri ini hukumnya haram!”, “tidak mau kalau yang menyeru dari kelompokmu”, yang terakhir ini tak ubahnya kaum Yahudi yang tidak menerima risalah Islam lantaran dibawakan oleh Nabi dan Rasul yang bukan dari golongan mereka. ‘Ashobiyah telah menjadikan mereka buta dari melihat kebenaran.

Jika kita perhatikan bersama ayat-ayat sebelumnya (an-Nur 48-51), kita akan mendapati ayat-ayat itu menjelaskan macam-macam karakter manusia saat merespon seruan tersebut.

Ada yang mau menerima ajakan tersebut hanya apabila itu mendatangkan keuntungan atau kemaslahatan bagi mereka. Ada yang menolak, dan itu tidak lepas dari: adanya penyakit hati, ragu-ragu terhadap risalah Islam, dan takut kalau-kalau ketetapan Allah dan Rasul-Nya itu tidak adil. sedangkan kaum mukmin sejati akan menerimanya dengan sepenuh hati.

وَإِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ إِذَا فَرِيقٞ مِّنۡهُم مُّعۡرِضُونَ ( ٤٨ ) وَإِن يَكُن لَّهُمُ ٱلۡحَقُّ يَأۡتُوٓاْ إِلَيۡهِ مُذۡعِنِينَ ( ٤٩ ) أَفِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ أَمِ ٱرۡتَابُوٓاْ أَمۡ يَخَافُونَ أَن يَحِيفَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِمۡ وَرَسُولُهُۥۚ بَلۡ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلظَّٰلِمُونَ ( ٥٠ ) إِنَّمَا كَانَ قَوۡلَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذَا دُعُوٓاْ إِلَى ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ لِيَحۡكُمَ بَيۡنَهُمۡ أَن يَقُولُواْ سَمِعۡنَا وَأَطَعۡنَاۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ ( ٥١ )

"48. Dan apabila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, agar rasul memutuskan perkara di antara mereka, tiba-tiba sebagian dari mereka menolak untuk datang.

49. Tetapi jika keputusan itu untuk (kemaslahatan) mereka, mereka datang kepada rasul dengan patuh.

50. Apakah (ketidak datangan mereka itu karena) dalam hati mereka ada penyakit, atau (karena) mereka ragu-ragu ataukah (karena) takut kalau-kalau Allah dan rasul-Nya berlaku zalim kepada mereka? Sebenarnya, mereka itulah orang-orang yang zalim.

51. Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung."

Jadi, jangan main-main saat ada seruan untuk berhukum dengan hukum Allah atau seruan untuk menerapkan Syari’ah dan Khilafah, yang dilakukan oleh siapapun orangnya dan apapun organisasinya. Sikap kita hanya satu: menerimanya dengan segala rasa hormat, tunduk dan patuh. Tidak berkelit menolak dengan berbagai macam alasan.

Malang, 11 Rajab 1440 H